Friday, July 3, 2009

“Sifat Al-Rafi (II) Allah Swt ”

Menyambung pembahasan topik Khutbah Jumah yang lalu, yang pada kesimpulannya, Huzur menyampaikan, bahwa hanya rumah-rumah yang ditinggikan derajatnya oleh Allah sajalah yang mampu membawakan kembali nur hidayah Rasulullah Saw di zaman kini. Huzur menerangkan perkara ini lebih lanjut berdasarkan berbagai perintah Hadhrat Masih Mau'ud a.s..
Pertama-tama, Huzur mengingatkan, wa maa khalaqtul jinna wal-insa illa liyaa'budun, yakni, tujuan utama diciptakannya jin dan manusia tiada lain adalah untuk menyembah Allah.
Imam Zamani yang membawakan kembali nur rohani Rasulullah Saw dengan kapasitas yang melebihi [para Imam Zaman] lainnya, telah memberi petunjuk kepada kita. Adalah suatu karunia besar Allah Swt yang telah memudahkan kita untuk dapat menerima kebenaran Imam Zamani, sehingga kita pun mendapatkan petunjuk Ilahi dalam segala hal. Ba'da masa Imam Zaman, berdirilah Nizam Khilafat, sehingga kelanjutan berbagai nasehat petunjuk pun dapat diberikan. Hubungan khas antara Khilafat dan Jamaah semakin erat dengan adanya pembaharuan janji Bai’at. Adanya petunjuk Khilafat seolah membawa sesuatu pembaharuan.; yang kaum Muslimin lainnya ternafi'kan.
Huzur bersabda, beberapa hari yang lalu, beliau mengadakan rapat dengan Majlis Khudamul Ahmadiyah UK., yang di dalamnya Huzur menemukan beberapa hal pada mana mereka tidak menjalankan perintah Huzur. Namun ketika kemudian tuan Sadr [Khuddam] menyadarinya, dan cepat-cepat memohon maaf secara tertulis yang disampaikannya secara langsung dengan perasaan penuh haru biru.
Demikian pun para anggota pengurus Majlis Amilah mereka, mengirim surat permohonan maaf yang sama.
Begitulah hubungan erat antara seorang Khalifah Waqt dengan Jamaahnya yang dipenuhi dengan rasa syukur kepada Allah Swt. Di zaman dan di dalam kondisi dunia yang serba materialistis kini, masih ada suatu kaum yang meskipun terdidik dan bekerja dengan cara-cara duniawi, namun tetap memperlihatkan keikhlasan mereka kepada Khilafat. Hal ini semata-mata dikarenakan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah mengajari kita kiat-kiat menjalin hubungan dengan Allah Swt. Dan amal ibadah kita adalah – dan senantiasa akan terus – semata-mata demi memperoleh keridhaan-Nya; yang kaum Muslimin lainnya terluputkan.

Tanda-tanda Akhir Zaman.
Huzur bersabda, baru-baru ini ada seorang kawan karib non-Ahmadi yang namanya dikenal di dunia media informasi datang menjumpai Huzur. Antara lain, ia menyampaikan keprihatinannya, mengapa meskipun Masjid-masjid [di Pakistan] tampak penuh dibandingkan waktu-waktu sebelumnya; dan semakin banyak orang yang pergi Haji, serta terlihat banyak orang beramal, namun seolah tak terlihat adanya sesuatu hasil yang baik. Tuan itu menambahkan, mereka seperti tak memiliki kesadaran yang mumpuni; seketika mereka keluar dari masjid mereka, merebaklah berbagai kepalsuan.
Huzur berkata kepadanya, ibadah kami; praktek Salat kami, dan amal shalih kami hanya akan membawa faedah apabila mendatangkan perubahan kepada diri sendiri terlebih dahulu. Memamerkan ritual ibadah Islam hanya melalui permukaan kulit dan mengikuti arus bukanlah jalan taqwa. Huzur bersabda, beliau senantiasa ingat kepada sejumput nasehat Hadhrat Muslih Mau'ud r.a.: ‘Adalah hak orang lain untuk menilai amalan tuan-tuan; Akan tetapi, kewajiban tuan-tuan sendirilah untuk dapat memeriksa keadaan kalbu masing-masing.’
Huzur bersabda, ruh ketaqwaan hanya akan muncul apabila segala amal perbuatan yang dilakukan semata-mata lillahi Taala. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk dapat memeriksa kalbu masing-masing. Kemudian, Huzur pun mengingatkan tuan tamu tersebut – yang boleh saja ia tak setuju – namun fakta menunjukkan, jika tidak menerima kebenaran Imam Zaman, amal shalih yang haqiqi tak akan dapat diperoleh. Tanpa menerima kebenaran Al Masih Yang Dijanjikan dan tanpa menerima Khilafat Ahmadiyah, rujukan mereka tidak akan akurat.
Dasar pijakan Qur’an dan Syariah yang mereka gunakan memang sama, akan tetapi pemahaman yang benar dan mendalam hanya dikaruniakan kepada seorang hamba dan pengkhidmat Rasulullah Saw yang sejati. Beliaulah yang telah berhasil menanamkan ruh ketaqwaan kepada Allah Swt dan kecintaan kepada Rasulullah Saw. di dalam kalbu kita masing-masing. Amal ibadah hanya akan membawa faedah apabila mampu memuliakan aaspek ini, yang berlanjut kepada pembersihan qalbu. Setiap Ahmadi berkewajiban untuk memahami berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Mereka yang mampu membacanya, bacalah; dan sebagian lainnya boleh mendengarkan.

Rahasia Doa Al Fatihah
Beliau a.s. menerangkan: Di dalam doa permohonan ' iya kana budu wa iya kaanastaiin' , Allah Swt menghimbau para hamba-Nya agar senantiasa itaat kepada-Nya dengan penuh semangat, istiqamah dan dawam dalam memenuhi seruan-Nya; serta berdoa: Ya Allah kami tak akan pernah merasa letih dalam berusaha memenuhi segala perintah Engkau maupun dalam mencari keridhaan Engkau. Akan tetapi, kami memohon pertolongan dan perlindungan Engkau agar dijauhkan dari sifat sombong dan angkuh. Karuniailah kami kekuatan dalam berusaha untuk memperoleh petunjuk dan keridhaan Engkau. Teguhkanlah kami dalam keitaatan dan menyembah Engkau. Oleh karena itu, masukanlah kami ke dalam orang-orang yang berserah diri kepada Engkau.”
Namun, ada satu aspek penting lain yang terkait dalam hal ini, ialah, para ibadullah sejati mendakwakan: Ya Allah, hanya Engkaulah yang kami sembah; mengutamakan Engkau dari segala sesuatu; tak ada hal lain yang kami dambakan selain Engkau, dan kami beriman kepada Keesaan Engkau.
Di dalam ayat [ke-5 Surah Al Fatihah] ini, Allah Yang Gagah dan Perkasa telah memerintahkan untuk menggunakan kata ganti orang ketiga yang bersifat jamak (plural). Hal ini mengandung hikmah, bahwa doa ini akan membawa faedah bagi semua sesama ikhwanul Muslimin; tidak hanya untuk diri si pemohon. Artinya, Allah Taala memerintahkan kaum Muslimin untuk senantiasa mendatangkan faedah bagi satu sama lain, bersatu padu dan saling mengasihi; yang menuntut si pemohon untuk mampu bersusah payah mempromosikan kemampuannya untuk membantu memenuhi keperluan sesama ikhwanul Musliminnya sebagaimana ia berusaha keras bagi dirinya sendiri. Tidak membeda-bedakannya. Bersimpati sedemikian rupa seolah-olah Allah Taala memerintahkan: Wahai hamba-Ku, saling mendoakanlah kalian sebagaimana sesama ikhwan saling bertukar bingkisan hadiah; perluaslah jangkauan doa-doa mu, niatmu dan tujuanmu. Berilah berbagai peluang bagi sesama ikhwanmu sebagaimana kepada saudara kandung sendiri. Atau sebagaimana dekatnya seorang ayah kepada anaknya.’ (Tafsir Al Qur’an, Vol. I, hlm. 191)
Huzur bersabda, agar mendapat suatu derajat ketaqwaan, hendaknya perluaslah niat baikmu bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain juga. Jika tidak ada keinginan untuk berbagi kebaikan dengan orang lain, maka Salat orang yang demikian itu pun tidak akan mendatangkan faedah.
Bahkan masih banyak lagi terdengar hal-hal yang negatif dari masjid-masjid suatu kaum yang seperti itu. Maka apa faedahnya Salat dengan bermakmum di belakang orang-orang yang bermulut kasar seperti itu ?
Huzur bersabda, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. senantiasa menasehati Jamaat agar selalu bersabar dan istiqamah.
Baru-baru ini terjadi suatu aksi penentangan di India, yang Huzur menerima berbagai surat yang bernada tajam. Akan tetapi Hadhrat Masih Mau'ud a.s. menasehati agar jangan bersikap kasar terhadap mereka yang menentangmu. Janganlah membalas caci maki dengan cacian yang sama. Sikap kita adalah membalas dengan kebaikan terhadap mereka yang berbuat keburukan dalam arti membelokkan perbuatan buruk mereka ke hadapan Allah Taala.

Rahasia Keutamaan Salat.
Inilah hasil akhir yang haqiqi dari praktek berbagai Salat yang benar, yang hendaknya kaum Ahmadi menanamkannya. Sebatas hanya menerima kebenaran Al Masih Mau'ud tiada banyak berfaedah; sebab, untuk memperoleh kemuliaan akhlak, ajaran beliau perlu dilaksanakan.
Huzur bersabda, Salat adalah ibadah yang paling mendasar dari pernyataan iman seorang Muslim. Setiap orang yang menyatakan dirinya Muslim – bahkan seandainya mereka tidak melaksanakannya – sangat memahami hal ini. Namun sangat disayangkan, sebagian besar mereka yang mengetahui bahwa hal ini adalah wajib, namun tetap tidak melaksanakannya karena jika mereka melaksanakannya pun hanya untuk pamer belaka. Bahkan seandainya ada yang berusaha khusyu mengerjakannya, tetap saja gagal untuk mencapai tujuannya yang haqiqi disebabkan kaum mullah mereka menghalang-halangi mereka untuk memperoleh faedah dari keberadaan sumber mata air rohani yang Allah Taala sendiri telah sediakan untuk zaman ini. Yakni, Allah Swt telah mengutus Hadhrat Masih Mau'ud a.s. untuk mengadakan inqilabi rohani manusia di zaman kini, yakni untuk memenuhi kehendak-Nya, agar Syariah Islam yang terakhir ditegakkan kembali, yuhyiddina wa yuqimush-shariah..
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, ada setengah orang yang meskipun mengerjakan Salat dan ibadah lainnya tetapi tidak mendapat pertolongan dan bantuan Allah Taala. Tak tampak adanya perbaikan rohani di dalam diri mereka. Ini disebabkan Salat mereka hanya sebatas ritual gerakan raga belaka, alih-alih mendirikan Salat yang haqiqi, yang memberi pengaruh positif kepada pikiran dan jiwa.
Jika orang menanam benih lalu memupuk dan memeliharanya, bolehlah ia berharap beberapa bulan kemudian memetik hasilnya. Namun jika tak ada sesuatu hasil yang didapatkan, tentulah petanda benihnya tak bagus. Jika orang melaksanakan berbagai macam perintah ibadah namun tidak terlihat adanya pertolongan Ilahi yang khas, dapat disimpulkan benih yang ditanamnya tidaklah baik. Huzur bersabda, kaidah beribadah yang Hadhrat Masih Mau'ud a.s. tetapkan bagi kita adalah yang hendaknya dapat mempererat tali hubungan kita dengan Allah Taala, yang dampak positifnya dapat terlihat dalam praktek kehidupan sosial sehari-hari. Setengah orang berdoa hanya untuk kepentingan pribadinya sendiri, kemudian mengeluh doanya tidak makbul. Mereka mementingkan keuntungan pribadi dalam membina hubungan dengan Allah Taala. Padahal Allah telah menyatakan, bahwa Dia akan menguji mereka dengan maut, kekayaan dan anak-anak mereka. Maka ibadah kita hendaknya bertujuan untuk memperoleh qurb-Nya, agar kita pun mendapatkan kedamaian hati dan pikiran. Kita berikhtiar untuk itu, yakni berusaha melangkah ke arah perbaikan; memperoleh ridha Ilahi dalam usaha mendapatkan kedamaian jiwa yang dapat diterima oleh kehidupan sosial masyarakat, inilah hasil taqwa yang haqiqi sebagai buah dari peribadatan yang benar; tak soal apakah doa-doa untuk kepentingan pribadi termakbulkan ataukah tidak. Sekurang-kurangnya, hubungan pribadi kita dengan Allah Taala menjadi erat. Inilah tujuan haqiqi kedatangan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Beliau bersabda, nilai Salat tidaklah ditentukan oleh pelaksanaan secara ritual fisiknya saja, melainkan ibadah yang menjadikan qalbu seseorang penuh dengan kesabaran dan runduk. Salat yang ikhlas dapat menempatkan kepentingan kehidupan duniawi dan kehidupan Akhirat sesuai dengan urutannya.
Huzur bersabda, inilah sejumput nasehat dari Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Maka jika kita dapat menjawab pertanyaan dunia, mengapa meskipun Masjid-masjid tampak penuh tetapi masih ada kekacauan di sekitarnya ? Kita pun hendaknya memahami sepenuhnya tujuan kita sendiri; jangan sampai melupakan tujuan diciptakan-Nya diri kita, yang untuk itu kita berbai’at kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

Nasehat Bertuah Bagi Semua.
Huzur bersabda, nasehat ini untuk Jamaat secara keseluruhan, namun khususnya lagi bagi para anggota Pengurus, para karyawan Jamaat dan para Waqifin hendaknya mengindahkan nasehat ini. Seandainya para anggota pengurus dan waqifin dapat menjalankan nasehat ini, maka niscaya peringkat rohani Jamaat mereka pun akan meningkat seiring dengan semakin makmurnya masjid-masjid kita. Dengan contoh yang baik dari para pengurus, maka para anggota pun akan meningkatkan ketaqwaan mereka. Kecakapan ilmu pribadi, kemampuan daya pengamatan ataupun kecakapan berorganisasi tak akan membawa faedah baik kepada orang perorang sebagai Ahmadi maupun kepada Jamaat dalam jangka panjang apabila ada kekurangan dalam ketaqwaan dan ketidak-ikhlasan dalam peribadatannya. Semoga Allah Taala memudahkan kita untuk memenuhi berbagai harapan Hadhrat Masih Mau'ud a.s..

o o O o o
translByMMA / LA062909

Wednesday, July 1, 2009

Sifat Al-Rafi (Maha Pengangkat Derajat) Allah Swt

Al Rafi (Maha Pengangkat Derajat) adalah salah satu sifat Allah Swt, yang artinya Dia-lah Dzat Yang Mengangkat derajat kaum mukminin sejati. Dia mengangkat derajat mukmin sejati atas dasar amal shalih mereka yang dikerjakan dengan dawam; yang itupun berkat karunia Allah semata. Namun, Dia menganugerahkan karunia-Nya untuk memuliakan kaum mukminin itu dengan cara yang luar biasa, diluar jangkauan pikiran manusia. Allah memberikan qurb-Nya kepada para hamba pilihan-Nya itu sehingga memperkokoh kemuliaan derajat mereka. Dia mengaruniakan sebagian kemulian-Nya dan mengirimkan ilmu tarbiyat-Nya melalui para rasul-Nya. Di dalam Al Qur’an Karim dinyatakan,
اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْـكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ
‘…Kepada-Nya naik segala perkataan yang baik, dan amalan-shalihan membantu mengangkat derajat mereka…’ (Surah Al Fatir, 35:11).
Huzur menerangkan, hal ini menunjukkan bahwa Allah Swt suka menerima amal shalih. Yakni, amal shalih yang mendatangkan pahala. Sebab, tanpa adanya amal shalih, manusia tak akan memperoleh taqabuliat-Nya.
Huzur bersabda, Allah itu Al Rafi, namun Dia pun bersifat Al Qadir (yakni Pemilik Kekuasaan dan Kewenangan), yang dapat Dia berikan kepada hamba-Nya yang diridhoi. Namun, kaidah utama untuk memperoleh anugerah derajat kemuliaan-Nya itu adalah dengan cara banyak beramal shalih. Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah mengingatkan Jamaah beliau, hal yang dapat menarik taqubuliyat Allah Swt adalah amalan-shalihan.
Ayat Al Quran yang tadi telah dibacakan menyatakan kepada kaum jahiliyah Arabia pra-Islam, dengan kekuatan quwat-qudsiyah Rasulullah Saw, segala sifat biadab mereka bukan hanya akan dibersihkan, akan tetapi juga akan diangkat derajat ketaqwaan dan kemuliaannya. Kehormatan ini sebagai hasil dari keikhlasan keimanan, ketinggian akhlak dan amalan-shalihan mereka......
Akan tetapi sayang, dunia Islam kini sudah berubah menjadi serba materialistik; melupakan contoh kemuliaan akhlak leluhur mereka. Kondisinya sudah memburuk sedemikian rupa, sehingga orang Muslim membunuh sesama Muslim lainnya dengan mengatas-namakan Islam. Maka beberapa kaum non-Muslim pun dapat mendikte gerak langkah mereka. Berbagai negara Muslim meminta bantuan kekuatan beberapa negara non-Muslim untuk mengatasi permasalahan mereka. Bila suatu negara Islam menghadapi kesulitan, mereka pun cepat-cepat meminta bantuan Amerika Serikat atau negara-negara Eropa, alih-alih berkonsultasi dengan sesama negara Islam lainnya. Sehingga, beberapa negara non-Muslim itu pun dapat memaksakan kehendak mereka; bersikap aniaya terhadap kebijakan negara mereka, sehingga meningkatkan berbagai aksi protes di kalangan kaum Muslimin lainnya. Sebagai akibat sudah tidak sesuai dengan falsafah ajaran Islam tersebut, maka mereka pun jatuh ke jurang kehinaan alih-alih menjadi mulia..
Allah Taala telah menyatakan, kaidah utama cara beramal-shalih yang paling diridhoi-Nya adalah hanya dengan mengikuti contoh berberkat Rasulullah Saw. Namun, meskipun kaum Muslimin sekarang ini menyadari berbagai perbuatan munkar mereka sendiri yang membuat mereka menjadi terhina, tetapi tetap saja mereka tidak mau beramal-shalih sebagaimana dinasehati [Rasulullah Saw] untuk zaman akhir ini. Yakni, Allah Taala telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai Mahdi-Nya disebabkan beliau-lah seorang hamba dan pecinta Rasulullah Saw yang sejati. Namun sungguh malang, mereka bukan hanya menolak kebenaran beliau a.s., tetapi bahkan juga melontarkan berbagai perkataan fitnah.
Membacakan satu contoh betapa Hadhrat Masih Mau'ud a.s. memuliakan junjungannya, Rasulullah Saw, dalam suatu syair gubahan beliau, Huzur bersabda, di abad sekarang ini, tak ada, atau bahkan tak akan pernah ada seorang insan yang memiliki daya penglihatan rohani yang tepat dan mendalam mengenai kemuliaan rohani Hadhrat Rasulullah Saw, selain dari Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Cara beliau a.s. mengungkapkannya demikian elok, sebagaimana ikhtisar tulisan beliau ini:
'‘Al Qur’an Karim telah menyatakan kemuliaan derajat Rasulullah Saw dengan ungkapannya yang indah ini,
اللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ‌ؕ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ‌ؕ الْمِصْبَاحُ فِىْ زُجَاجَةٍ‌ؕ اَلزُّجَاجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍۙ يَّـكَادُ زَيْتُهَا يُضِىْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ‌ؕ نُّوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ‌ؕ يَهْدِىْ اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ‌ؕ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ‌ؕ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيْمٌۙ‏
Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi. Misal nur-Nya adalah bagai sebuah relung yang di dalamnya ada sebuah pelita. Pelita itu berada di dalam suatu semprong kaca. Semprong kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon - yang diberkati - zaitun yang tidak Timur tak pula Barat, yang minyaknya nyaris bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. Nur di atas nur ! Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mengemukakan permisalan-permisalan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Surah Al Nur, 24:36).
Maksudnya, Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi, yakni, setiap cahaya yang terlihat di ketinggian langit maupun di kedalaman perut bumi; di alam rohani ataupun di dunia jasmani; di dalam diri orang pribadi ataupun jamaah; yang zahir maupun yang ghaib, yang tersirat maupun yang tersurat, semuanya itu berasal dari rahmat karunia Allah semata.
Hal ini menunjukkan, karunia Allah Rabbul Alamin meliputi segala sesuatu. Tak ada satupun yang tak memperoleh karunia-Nya. Dia-lah sumber segala rahmat. Nur ala nur; sumber segala karunia. Allah-lah penyangga seluruh alam semesta. Menjadi empat berlindung bagi mereka yang berada di ketinggian maupun mereka yang berdiam di tempat-tempat yang rendah. Dia-lah yang mengeluarkan segala sesuatu dari kegelapan dan ketiadaan menjadi untaian indah mutu manikam. Tak ada sesuatu yang mewujud karena dirinya sendiri kemudian berlangsung terus menerus; melainkan disebabkan karena menerima karunia-Nya semata.
Bumi, langit, manusia, hewan, bebatuan, tanaman, rohani maupun jasmani, semuanya mewujud atas karunia-Nya semata.
Inilah yang dimaksud dengan karunia umum sebagaimana yang tercantum di dalam ayat, Allahu nurrusamawati wal-ardh. Ialah Karunia Allah meliputi segala sesuatu bagai sebuah lingkaran. Karunia-Nya diterima tanpa syarat. Kalau pun ada yang bersyarat, adalah semata atas karunia-Nya juga, yang dikhususkan bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk menerimanya; yakni, para rasul Allah; dan wujud yang paling afdhol untuk dapat menerima karunia-Nya yang terbesar itu, ialah Muhammad, Rasulullah Saw......
Terjemahan kalimat berikutnya di dalam ayat tersebut, ...almisbahu fii judzadjah, ajjudzadzah ka-annaha kaukabun durriyyuy-yuqodhu min syajaratim-mubarakatin zaitun-natil-laa-syarkiyatiw-walaa ghorbiyyah, ialah, pelita-Nya tersebut dipancarkan [oleh insan paripurna, ialah Rasulullah Saw] dalam perumpamaan sebuah relung yang gemerlapan [yakni, dada Rasulullah Saw]. Di dalam relung itulah pelita tersebut berdiam, dilindungi oleh sebuah semprong kaca yang berkilauan [ialah, dada Rasulullah Saw yang suci murni bagai kristal yang gemilang, tak bernoda, tak pula bercacat; dan hanya mendambakan Allah Swt saja]. ...ajjudzadzah ka-annaha kaukabun durriy..., Semprong kaca kristal itu seperti bintang yang gemerlapan, bersinar di langit dengan penuh keagungan [yakni, qalbu Rasulullah Saw yang besih dan bersinar hingga tampak mengalir keluar bagai mata air]. ...durriyyuy-yuqodhu min syajaratim-mubarakatin..., Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon - yang diberkati, [yakni, pribadi Rasulullah Saw yang merupakan kumpulan dari berbagai rahmat dan karunia yang tidak membawa pesan dari suatu wilayah, zaman, ataupun kecenderungan arah; yang akan terus mengalir, tak akan terputus]. ...syajaratim-mubarakatin zaitun-natil-laa-syarkiyatiw-walaa ghorbiyyah..., pohon yang diberkati tersebut tidak Timur tak pula Barat [yakni, missi Rasulullah Saw tak berlebihan tak pula mengandung kekurangan. Disiapkan dengan sebaik-baiknya. ...yakadu dzaituha yudiyy'u walawlam tamsashu narun..., minyak pohon yang diberkati tersebut, mampu menyalakan pelita wahyu Ilahi, yakni, gemerlap akal sehat yang dibawakan Rasulullah Saw ditambah dengan akhlakul karimah beliau, membuat mata air kehidupan rohani tersebut senantiasa mengalir yang sesuai dengan akal pikiran.
Karunia Wahyu Ilahi itu ternyalakan dengan kemuliaan akhlak fadillah Rasulullah Saw; dikaruniakan-Nya dikarenakan memang cocok untuk menerimanya. Khususnya lagi dikarenakan sifat corak wahyu Ilahi tersebut sesuai dengan fitrat Rasulullah Saw. Misal perbandingannya adalah fitrat Hadhrat Musa a.s., yang merupakan gabungan kegagahan dan suka menghukum; maka seperti itu pula-lah corak syariat Taurat diwahyukan. Jesus Kristus berfitrat lembek dan kasih, maka seperti itulah syariat Al Kitab mengajarkan ajaran yang dipenuhi dengan kelembutan dan kasih. Sedangkan fitrat Rasulullah Saw sangat tegas tetapi juga istiqamah. Tidak menyukai sikap serba membolehkan, tetapi tak juga suka menghukum. Nasehat dan keputusan beliau senantiasa bijaksana sesuai dengan situasi dan kondisinya. Oleh karena itu, Al Qur’an pun berisi syariat ajaran yang bersifat moderat (jalan tengah), gabungan antara ketegasan dan pengasih, menuntut dan membimbing, keras tetapi juga ada lembutnya......
Fitrat beliau gabungan antara keras dan lembut, hukuman dan pengampunan, sederhana dan keagungan, ketegasan dan keindahan. Kemuliaan akhlakul karimah Rasulullah Saw dinyatakan di tempat lain di dalam Al Qur’an, ialah: ...wa innaka la'ala khuluqi adhim..., yang artinya, (Ya Rasul) Sesungguhnya engkau telah diciptakan yang disertai dengan keberkatan memiliki akhlak yang agung.(68:5).
...yakadu dzaituha yudiyy'u walawlam tamsashu narun..., minyak pohon yang diberkati tersebut nyaris bercahaya walupun api tidak menyentuhnya [yakni, akal sehat dan kemuliaan semua sifat Rasulullah Saw demikian sempurna, patut, halus dan bercahaya, ialah, nyaris bersinar memberi petunjuk walaupun belum menerima wahyu Ilahi]. Nur ala nur, artinya berbagai macam nur kebaikan ada di dalam diri Rasulullah Saw; dan kepada wujud yang sudah dipenuhi corak cahaya kehidupan tersebutlah nur wahyu Ilahi diturunkan, sehingga beliau pun menyandang gelar ‘Khatamul-Anbiya’; Nur ala nur ! (Barahin Ahmadiyah, Vol. I, hlm. 191-195, catatan kaki No. 11).
Huzur bersabda, maka berkat kesempurnaan sifat cahaya Rasulullah Saw itulah, beliau mampu memancarkan kembali nur wahyu Ilahi bagi seluruh umat manusia. Hanya nur Ilahi inilah yang mampu memberikan berkat keselamatan sampai Hari Kiamat; yang untuk akhir zaman kini, sebagian dari Nur ala nur tersebut berhasil diperoleh kembali oleh seorang hamba Rasulullah Saw yang sejati, [yakni Masih Mau'ud a.s.]; sehingga beliaupun mampu melanjutkan missi penyebaran nur hidayah Ilahi ini, dan dunia memperoleh keberkatannya.
Untuk kelanjutan missi [Rasulullah Saw] inilah beliau mendapat julukan Khatamul-Khulafa (Khalifatullah yang paling afdhol). Sebab, para Khalifatullah lain yang datang sebelum beliau bertugas hanya untuk suatu wilayah tertentu. Akan tetapi bagi Masih Muhammadi a.s. ini, nur pelita wahyu Ilahi tersebut telah memancar [ke seluruh dunia] karena telah ditempatkan di puncak suatu Myskat, tiang yang tinggi....
Setelah masa Khatamul-Khulafa, dengan bantuan dan bimbingan Allah Taala, kini hanya nizam Khilafat yang mampu menjalankan tugas risalah ini. Ayat berikutnya di dalam Surah An Nur tersebut adalah sebagai berikut,
فِىْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِۙ‏
‘Nur tersebut kini menyinari rumah-rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan dan diingat di dalamnya nama-Nya, dia bertasbih kepada-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang.’ (24:37).
Huzur bersabda, maksud buyutin (rumah-rumah) di dalam ayat ini adalah rumah-rumah yang di dalamnya berbagai perintah Allah dijalankan. Rumah-rumah semacam itulah yang akan dimuliakan. Setiap langkah yang membantu memperkuat keimanan adalah dzikir Ilahi dan mendirikan Salat. Ingatlah seorang wujud yang telah memiliki nur Ilahi dengan ungkapan syairnya, “Kesejukan mata rohani-ku hanyalah terletak di dalam Salat”.
Huzur bersabda, kebiasaan menjamak Salat Zuhr dan Asar yang tidak beralasan kuat hendaknya ditinggalkan. Huzur mengingatkan sebuah Hadith menyebutkan Rasulullah Saw bersabda, beliau biasa mendirikan salat Sunnat empat rakaat qobla Zuhur, karena saat itulah pintu-pintu surga dibukakan. Sehingga bahkan beliau pun berdoa agar dapat diterima. Oleh karena itu, kaum pengikut Hadhrat Imam Mahdi a.s. kini hendaknya pun melaksanakannya.
Ayat berikutnya adalah,
رِجَالٌ ۙ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ‌ۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُۙ
‘Kaum lelaki yang tidak melalaikan mereka perniagaan dan tidak pula jual-beli dari mengingat Allah dan mendirikan Salat, dan membayar Zakat. Mereka takut pada hari, ketika terbalik di dalamnya hati dan mata.’ (24:38).
Huzur bersabda, para Sahabah Rasulullah Saw biasa melaksanakan Sunnah beliau Saw, disamping mendirikan berbagai salat Fardhu lainnya. Mereka tidak pernah melalaikan kewajiban mereka terhadap Allah dalam hal membayar Zakat, yang adalah haququl-ibad. Amal shalih mereka bagai nur yang memberi contoh berberkat hingga hari ini.
Menerangkan perbedaan pengertian antara tijarah (perniagaan) dan bai’ah (jual-beli) di dalam ayat ini, Huzur bersabda, tijarah, atau perniagaan lebih menekankan adanya interaksi jual-beli. Sedangkan bai’ah bersifat hanya menjual (sales). Maka adanya pelayanan purna-jual hendaknya termasuk di dalam kategori bai’at ini. Di dunia Barat kaidah yang baik ini (after sales service) telah meluas [di berbagai jenis penjualan]. Agar urusan bai'at (penjualan) mereka dapat diselesaikan tepat waktu, mereka pun berdaya upaya untuk melaksanakan kewajiban mereka......
transldByMMA / LA062209

Friday, February 13, 2009

Sifat Al-Hadi Allah Swt & Mengutus Nabi-Nya

Huzur mendasari Khutbah Jumah beliau ini kepada masalah sifat Al Hadi (Pemberi Petunjuk) Allah Swt. Menurut Kamus Bhs.Arab, al-Hadi artinya adalah suatu Wujud yang senantiasa mengajari umat-Nya dengan ilmu kerohanian hingga mereka betul-betul dapat memahami sifat Rububiyyat Allah Swt (yakni, sifat menciptakan, menumbuh-kembangkan dan memelihara kelangsungan hidup semua makhluk ciptaan-Nya. Hal ini terkait dengan sifat ‘Rabb’-Nya, yakni Rabbul-Alamin, atau Tuhan Semesta Alam).
Dia mengirimkan ilmu kerohanian-Nya ini apabila umat telah menafi'kan sifat Rububiyyat-Nya, dalam berbagai bentuk. Misalkan, ada yang menganggap diri mereka super-power. Ada yang mengaku-ngaku mendapat wahyu. Ada lagi yang menyembah kuburan. Dan ada pula yang mengandalkan benda-benda duniawi lalu mengaku-ngaku kebal terhadap sesuatu. Pendek kata banyak sekali corak kekufuran di dunia sekarang ini, namun kenyatanyaannya berbagai penderitaan pun datang bagai tiada akhir. Pada situasi seperti inilah Allah Swt mewujudkan Kekuasaan-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam.
Huzur selanjutnya membacakan beberapa ikhtisar tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. untuk memperjelas topik kajian. Beliau a.s. bersabda, ada suatu waktu ketika manusia sudah melupakan statusnya sebagai makhluk, dan tidak memahami kedudukan Tuhan sebagai Khaliknya; awan gelap bagai telah menutupi segalanya; pada situasi seperti itulah Allah Al-Rahman mengutus Imam Zaman-Nya yang akan menunjukkan kepada umat, siapa pemilik kekuatan syaithani sebenarnya. Imam Zaman-Nya akan mengungguli para penentangnya sehingga ia akan tetap menjadi Imam bagi mereka yang telah memperoleh petunjuk.
Allah, Al-Hadi (Yang Memberi Petunjuk) berkehendak untuk menunjukkan sifat Rububiyyat-Nya; ingin memperlihatkan berbagai tanda keunggulan-Nya dihadapan para penentang dengan cara membantu kaum yang telah mendapat petunjuk dan memberantas berbagai kekuatan baru yang menciptakan penderitaan.
Adalah kenyataan, ketika Hadhrat Masih Mau'ud a.s. dibangkitkan, kekuatan Kristen sedang jaya-jayanya, sehingga kaum Muslimin di anak benua India sangat terpengaruh. Para Padri Kristen sudah berangan-angan bahwa mereka akan dapat menguasai seluruh jazirah India. Akan tetapi dengan munculnya Hadhrat Masih Mau'ud a.s., mereka pun mengalami langkah mundur. Begitupun di Benua Africa, mereka sudah sesumbar dapat menguasainya, namun dengan berdatangannya para Mubaligh Imam Mahdi a.s., mereka pun mengakui missi Islam Ahmadiyyah telah berhasil memperlambat gerakan mereka.
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, Kenabian Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw telah membawa kekuatan berkat yang luar biasa, sehingga mereka yang benar-benar dapat mengikuti langkah beliau Saw, niscaya akan mendapat rahmat rahimiyat Allah Swt. Dan apabila keitaatan dan kesesuaian dengan contoh Rasulullah Saw itu sedemikian rupa sempurnanya, tak ada lagi kekurangan yang tersisa, maka Allah Swt pun berkenan bercakap-cakap dengan pribadi muhadas tersebut; lalu membukakan pintu berbagai karunia ilmu ghaib atau kabar suka-Nya (an-naba). Dengan kata lain inilah tahapan yang disebut dengan kenabian, yang telah diakui oleh para nabiyullah terdahulu.
Maka, betapa mungkin Ummat yang telah disebut di dalam Alqur’an sebagai “kuntum khaira ummatin uhrijat linnas...”, yakni sebaik-baiknya umat yang telah dibangkitkan untuk membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia...; (3/S.Al-Imran:111); dan juga telah telah diajari doa “...ihdina shiratal mustaqim, shiratalladzina an'amta'alaihim...”, yakni, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau telah beri ni'mat atas mereka...” (1/Al-Fatihah:6-7), namun tetap dina'fikan dari status derajatnya yang tinggi dan juga tak ada seorangpun dari antara mereka yang berhasil memperoleh karunia ni'mat kerohanian ini ?
Maka yang diperlukan oleh dunia Islam saat ini adalah mencoba memandang diri mereka dari luar; memfocuskan pikiran mereka ke luar; dan keluar dari kungkungan kesempitan pikiran mereka. Bebaskan kalbu dari syakwasangka terhadap Hadhrat Masih Mau'ud a.s., bacalah doa-doa tersebut, maka niscaya mereka pun akan memperoleh kemakbulan, barulah kemudian panjatkan doa-doa mohon petunjuk tersebut.
Membacakan ayat 40 Surah Al Mu’min, wa qola robbukum ud'uuni astajiblakum..., yakni, dan Tuhan-mu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku; maka Aku pun akan mengabulkannya' (40/Al-Mumin:61). Huzur bersabda, setiap hari kita mengalami pengabulan berbagai corak doa permohonan, maka betapa mungkin doa khas (1:6) untuk kemajuan rohani tersebut tidak dikabulkan-Nya ?.....
Jika doa khas ini tidak dikabulkan, tentulah terbuka peluang untuk menghujjah Allah. Keadaan Islam sekarang ini sunguh memprihatinkan. Betapa mungkin doa-doa mustajab yang dipanjatkan setiap waktu oleh kaum Muslimin, Allah tidak mengirimkan seorang Hadi (Utusan)-Nya ?
Nyatanya, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah menyatakan berkali-kali, generasi demi generasi umat Islam akan berlalu setelah memanjatkan doa tersebut, namun tidak akan ada seorang Hadi, atau Mahdi, ataupun Al-Masih yang akan datang, selain dari diri beliau.
Huzur bersabda, kaum Muslimin perlu memeriksa diri mereka sendiri alih-alih menganiaya kaum Ahmadi. Mereka perlu memohon petunjuk dengan hati dan pikiran yang ikhlas. Penentangan dan penganiayaan terhadap kaum Ahmadi masih terus berlangsung dalam berbagai bentuk. Namun mereka sekali-kali tak akan dapat menghabisi Jamaat Ahmadiyah, betapapun kerasnya mereka berusaha....
Mungkinkah kita menyajikan sosok Imam Mahdi yang tidak sesuai dengan nubuatan Rasulullah Saw hanya demi untuk menambah jumlah anggota ? Jika pendakwaan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. sebagai nabi dihilangkan. tentulah batal pula pendakwaannya sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan.
Rasulullah Saw telah bersabda, tidak akan ada nabi di rentang waktu setelah beliau hingga kedatangan kembali Isa ibnu Maryam, Imam Mahdi atau Al-Masih Yang Dijanjikan. Maka apabila sudah diterima bahwa Hadhrat Isa ibnu Maryam a.s. terdahulu sudah wafat, sedangkan Al-Masih Yang Dijanjikan akan datang dari kalangan Umat [Islam] tentulah ia akan berstatus rasul Allah.
Orang Ahmadi yang tidak memahami perkara ini hendaknya sadar, sekali mereka menafi'kan suatu aspek, maka mereka pun akan terjebak untuk menyangkali aspek penting lainnya. Oleh karena itu kita harus menegaskan pendakwaan kita hanyalah sebagaimana apa yang telah dinubuatkan oleh Rasulullah Saw, tanpa harus merasa gentar ataupun rendah diri.
Kaum Ahmadi adalah kaum yang telah diberi kabar suka, bahwa mereka akan menyinari dunia dengan kebenaran. Jika mereka tak mau menerimanya, tentulah kita pun tak akan menafi'kan kebenaran hanya untuk menyenangkan mereka.
Huzur kemudian membacakan dua ikhtisar tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. dari buku Khutbah Ilhamiyah, dan dari buku Bahtera Nuh. Beliau a.s. menerangkan, bahwa pesan tegas Alqur’an mengenai kedatangan Al-Masih Akhir Zaman akan berasal dari kalangan Ummat ini; Ini berkat doa mustajab “ihdina shiratal mustaqim” (1:6), dan berkat contoh sunnah istimewa Rasulullah Saw. Sehingga Islam pun mengungguli para nabi dan agama terdahulu. Karena Shariah yang dibawa beliau Saw dan juga keistimewaan kekuatan rohani Rasulullah Saw akan berlangsung terus hingga hari kiamat, maka Imam Mahdi-nya pun akan berasal dari Ummat ini. Oleh karena itu tiada pilihan lain kecuali harus menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s..
Membacakan kutipan dari buku beliau a.s. ‘Zaruratul Imam’ , Huzur bersabda, sebagaimana dalam ketata-negaraan duniawi suatu kaum diperintah oleh pemimpinnya, demikian pula doa “...ihdina shiratal mustaqim, shiratalladzina an'amta'alaihim...”, (1:6-7), yang diajarkan oleh Allah Swt adalah demi untuk perbaikan rohani melalui berkat seorang wujud yang paling banyak dikarunia keistimewaan rohani oleh Allah Swt.
Ayat ini pun menyiratkan, bahwa manusia haruslah mengikuti Imam Zamannya. Dan kata-kata Imam Zaman di sini dimaksudkan juga kepada nabi dan Mujadid. Dan orang yang tidak ditugasi Allah untuk memberi petunjuk kepada umat manusia – betapapun suci-nya ia – tidak dapat disebut Imam Zaman atau Mujadid. Dalam hal ini, Hadhrat Masih Mau'ud a.s. telah mendakwakan diri: “Aku adalah Imam Zaman-mu”...
Doa mustajab ‘iihdina shiratal mustaqim’ (1:6) niscaya segera terkabul apabila dipanjatkan dengan hati yang ikhlas tak peduli agama apapun yang memohonnya.
Maka apabila orang-orang ghair-Muslim saja berhasil memperoleh petunjuk berkat doa semacam ini, mengapakah Allah tak hendak memberi petunjuk kepada kaum Muslimin ? Ini dikarenakan niat mereka tidak baik. Padahal, kesucian kalbu adalah sangat penting untuk memperoleh petunjuk....
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada seluruh dunia untuk menerima Al-Masih yang sejati ini, dan semoga pula Allah memudahkan kita untuk senantiasa mempraktekkan ajaran beliau a.s..
Selanjutnya Huzur mengumumkan akan mengimami shalat jenazah ghaib untuk.......almarhumah Salimah Begum sahibah, yang telah meninggal dunia pada usia 88 tahun. Almarhum adalah ibunda Abdul Manan syahid. Beliau-lah yang pernah menghadapi kesyahidan putranya dengan ketawaqalan yang luar biasa. Dan beliau adalah anak perempuan Dr. Hashmat Ullah sahib, dokter pribadi Hadhrat Masih Mau'ud a.s..
Ketiga, untuk almarhumah Afifa sahiba, istri Mln.Sayuti Aziz Raisut-Tabligh Jamaat Indonesia, meninggal pada usia 65 tahun karena sakit di bagian paru-paru. Beliau seorang Musiyah yang giat berdoa, meninggalkan dua anak wanita dan dua anak laki-laki. Semoga Allah Swt memberi ketawaqalan kepada mereka semua. Keempat, untuk almarhum Mirza Akram sahib di Pakistan yang baru saja bergabung ke dalam Badan Ansarullah, meninggal dunia dalam mempertahankan diri dari perampokan di tokonya. Almarhum mendapat beberapa luka tembak, sehingga tergolong syahid. Beliau adalah seorang Dai Ilallah yang pemberani, selalu terdepan dalam pengorbanan harta dan banyak berkhidmat kepada Jamaat. Almarhum meninggalkan keluarga muda dan beberapa orang anak berusia 15 hingga 7 tahun. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka yang ditinggalkan, dan memberi almarhum dan almarhumah maqam yang terbaik di Jannah-Nya. Amin !

Please note: Department of Tarbiyyat Majlis Ansarullah USA and Jamaat BaKul takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
transltByMMA/LA 021009


















Sifat Al-Hadi Allah Swt & Mengutus Nabi-Nya
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
6 Februari 2009, di Masjid Agung Baitul Futuh, London, UK.


Khutbah Jumah ini didasari kepada masalah sifat Al Hadi (Pemberi Petunjuk) Allah Swt. Menurut Kamus Bhs.Arab, al-Hadi artinya adalah suatu Wujud yang senantiasa mengajari umat-Nya dengan ilmu kerohanian hingga mereka betul-betul dapat memahami sifat Rububiyyat Allah Swt (yakni, sifat menciptakan, menumbuh-kembangkan dan memelihara kelangsungan hidup semua makhluk ciptaan-Nya. Hal ini terkait dengan sifat ‘Rabb’-Nya, yakni Rabbul-Alamin, atau Tuhan Semesta Alam).
Dia mengirimkan ilmu kerohanian-Nya ini apabila umat telah menafi'kan sifat Rububiyyat-Nya, dalam berbagai bentuk. Misalkan, ada yang menganggap diri mereka super-power. Ada yang mengaku-ngaku mendapat wahyu. Ada lagi yang menyembah kuburan. Dan ada pula yang mengandalkan benda-benda duniawi lalu mengaku-ngaku kebal terhadap sesuatu. Pendek kata banyak sekali corak kekufuran di dunia sekarang ini, namun kenyatanyaannya berbagai penderitaan pun datang bagai tiada akhir. Pada situasi seperti inilah Allah Swt mewujudkan Kekuasaan-Nya untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam.
Selanjutnya untuk memperjelas topik kajian. Sebaagai ilustrasi adalah suatu waktu ketika manusia sudah melupakan statusnya sebagai makhluk, dan tidak memahami kedudukan Tuhan sebagai Khaliknya; awan gelap bagai telah menutupi segalanya; pada situasi seperti itulah Allah Al-Rahman mengutus Imam Zaman-Nya yang akan menunjukkan kepada umat, siapa pemilik kekuatan syaithani sebenarnya. Imam Zaman-Nya akan mengungguli para penentangnya sehingga ia akan tetap menjadi Imam bagi mereka yang telah memperoleh petunjuk.
Allah, Al-Hadi (Yang Memberi Petunjuk) berkehendak untuk menunjukkan sifat Rububiyyat-Nya; ingin memperlihatkan berbagai tanda keunggulan-Nya dihadapan para penentang dengan cara membantu kaum yang telah mendapat petunjuk dan memberantas berbagai kekuatan baru yang menciptakan penderitaan.
Adalah kenyataan, ketika seorang Imam Zaman dibangkitkan, kekuatan Kristen sedang jaya-jayanya, sehingga kaum Muslimin di anak benua India sangat terpengaruh. Para Padri Kristen sudah berangan-angan bahwa mereka akan dapat menguasai seluruh jazirah India. Akan tetapi dengan munculnya seorang Imam Zaman ini, mereka pun mengalami langkah mundur. Begitupun di Benua Africa, mereka sudah sesumbar dapat menguasainya, namun dengan berdatangannya para Mubaligh pengikut Imam Zaman ini, mereka pun mengakui missi Islam telah berhasil memperlambat gerakan mereka.
Sebenarnya Kenabian Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw telah membawa kekuatan berkat yang luar biasa, sehingga mereka yang benar-benar dapat mengikuti langkah beliau Saw, niscaya akan mendapat rahmat rahimiyat Allah Swt. Dan apabila keitaatan dan kesesuaian dengan contoh Rasulullah Saw itu sedemikian rupa sempurnanya, tak ada lagi kekurangan yang tersisa, maka Allah Swt pun berkenan bercakap-cakap dengan pribadi muhadas tersebut; lalu membukakan pintu berbagai karunia ilmu ghaib atau kabar suka-Nya (an-naba). Dengan kata lain inilah tahapan yang disebut dengan kenabian, yang telah diakui oleh para nabiyullah terdahulu.
Maka, betapa mungkin Ummat yang telah disebut di dalam Alqur’an sebagai “kuntum khaira ummatin uhrijat linnas...”, yakni sebaik-baiknya umat yang telah dibangkitkan untuk membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia...; (3/S.Al-Imran:111); dan juga telah telah diajari doa “...ihdina shiratal mustaqim, shiratalladzina an'amta'alaihim...”, yakni, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau telah beri ni'mat atas mereka...” (1/Al-Fatihah:6-7), namun tetap dina'fikan dari status derajatnya yang tinggi dan juga tak ada seorangpun dari antara mereka yang berhasil memperoleh karunia ni'mat kerohanian ini ?
Maka yang diperlukan oleh dunia Islam saat ini adalah mencoba memandang diri mereka dari luar; memfocuskan pikiran mereka ke luar; dan keluar dari kungkungan kesempitan pikiran mereka. Bebaskan kalbu dari syakwasangka terhadap kedatangan seorang imam Zaman ini., bacalah doa-doa tersebut, maka niscaya mereka pun akan memperoleh kemakbulan, barulah kemudian panjatkan doa-doa mohon petunjuk tersebut.
Membacakan ayat 40 Surah Al Mu’min, wa qola robbukum ud'uuni astajiblakum..., yakni, dan Tuhan-mu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku; maka Aku pun akan mengabulkannya' (40/Al-Mumin:61). Perhatikanlah bahwa, setiap hari kita mengalami pengabulan berbagai corak doa permohonan, maka betapa mungkin doa khas (1:6) untuk kemajuan rohani tersebut tidak dikabulkan-Nya ?.....
Jika doa khas ini tidak dikabulkan, tentulah terbuka peluang untuk menghujjah Allah. Keadaan Islam sekarang ini sunguh memprihatinkan. Betapa mungkin doa-doa mustajab yang dipanjatkan setiap waktu oleh kaum Muslimin, Allah tidak mengirimkan seorang Hadi (Utusan)-Nya ?
Nyatanya, generasi demi generasi umat Islam telah dan akan berlalu setelah memanjatkan doa tersebut, namun tidak akan ada seorang Hadi, atau Mahdi, ataupun Al-Masih yang akan datang, selain dari yang telah mendawakan diri.
Rasulullah Saw telah bersabda, tidak akan ada nabi di rentang waktu setelah beliau hingga kedatangan kembali Isa ibnu Maryam, Imam Mahdi atau Al-Masih Yang Dijanjikan. Maka apabila sudah diterima bahwa Hadhrat Isa ibnu Maryam a.s. terdahulu sudah wafat, sedangkan Al-Masih Yang Dijanjikan akan datang dari kalangan Umat [Islam] tentulah ia akan berstatus rasul Allah.
Kita adalah kaum yang telah diberi kabar suka, bahwa mereka akan menyinari dunia dengan kebenaran. Jika mereka tak mau menerimanya, tentulah kita pun tak akan menafi'kan kebenaran hanya untuk menyenangkan mereka.
Selanjutnya terdapat pesan tegas Alqur’an mengenai kedatangan Al-Masih Akhir Zaman akan berasal dari kalangan Ummat ini; Ini berkat doa mustajab “ihdina shiratal mustaqim” (1:6), dan berkat contoh sunnah istimewa Rasulullah Saw. Sehingga Islam pun mengungguli para nabi dan agama terdahulu. Karena Syariah yang dibawa beliau Saw dan juga keistimewaan kekuatan rohani Rasulullah Saw akan berlangsung terus hingga hari kiamat, maka Imam Mahdi-nya pun akan berasal dari Ummat ini. Oleh karena itu tiada pilihan lain kecuali harus menerima kebenaran Imam ZAman
Dalam ketata-negaraan duniawi suatu kaum diperintah oleh pemimpinnya, demikian pula doa “...ihdina shiratal mustaqim, shiratalladzina an'amta'alaihim...”, (1:6-7), yang diajarkan oleh Allah Swt adalah demi untuk perbaikan rohani melalui berkat seorang wujud yang paling banyak dikarunia keistimewaan rohani oleh Allah Swt.
Ayat ini pun menyiratkan, bahwa manusia haruslah mengikuti Imam Zamannya. Dan kata-kata Imam Zaman di sini dimaksudkan juga kepada nabi dan Mujadid. Dan orang yang tidak ditugasi Allah untuk memberi petunjuk kepada umat manusia – betapapun suci-nya ia – tidak dapat disebut Imam Zaman atau Mujadid.
Doa mustajab ‘iihdina shiratal mustaqim’ (1:6) niscaya segera terkabul apabila dipanjatkan dengan hati yang ikhlas tak peduli agama apapun yang memohonnya.
Maka apabila orang-orang non-Muslim saja berhasil memperoleh petunjuk berkat doa semacam ini, mengapakah Allah tak hendak memberi petunjuk kepada kaum Muslimin ? Ini dikarenakan niat mereka tidak baik. Padahal, kesucian kalbu adalah sangat penting untuk memperoleh petunjuk....
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada seluruh dunia untuk menerima Imam Zaman yang sejati ini, dan semoga pula Allah memudahkan kita untuk senantiasa mempraktekkan ajaran islami ini.

Wednesday, February 4, 2009

Apakah Allah tidak Cukup bagi hamba-Nya?

Huzur menyampaikan Khutbah Jum’at beliau tentang Allah cukup bagi orang yang dari Dia.
Status yang didapatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dalam ketaatan sepenuhnya kepada Junjungan-nya, Yang Mulia Rasulullah (s.a.w.) adalah jelas bagi setiap Ahmadi. Di dalam Khutbah Jum’at yang lalu Huzur telah menerangkan Sifat Ilahi Al Kaafi (Yang Maha Mencukupi). Di dalam hal ini, banyak wahyu-wahyu Ilahi yang diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.). Beliau menjadi kecintaan Allah dikarenakan pada kecintaan dan ketaatannya yang sangat besar dan istimewa untuk Yang Mulia Rasulullah (s.a.w.). Berapa bagian dari Kitab Suci Alqur-aan telah diturunkan kepada beliau sebagai wahyu-wahyu. Setiap hari dengan fajar menyingsing pada Jama’at Ahmadiyyah merupakan testimony pada kenyataan wahyu-wahyu tersebut yang membuktikan memang bahwa beliau adalah benar.
Orang yang berdusta mengada-ada atas nama Allah, terutama yang berdusta dalam hal kenabian tidak dapat melepaskan dirinya dari hukuman. Allah menyatakan di dalam Alqur-aan:

Wa lau taqawwala ‘alainaa ba’dhal aqaawiil. La akhadznaa minhu bil yamiin. Tsumma la qatha’naa minhul watiin. Fa maa minkum min ahadin ‘anhu haajizijn.
“Dan sekiranya ia mengada-adakan atas nama Kami sebagian perkataan, Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, Kemudian tentulah Kami memutuskan urat nadinya; Dan tiada seorang pun di antaramu dapat mencegah-nya dari itu.”
[Al Haaqqah, (69:45)-(69:48)]

Pada dasarnya, ini adalah sebuah tindakan terhadap orang yang berdusta kepada Allah. Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) menyajikan tindakan ini sebagai sebuah testimony atas kebenaran beliau. Beliau bersabda bahwa ini adalah sebuah Tanda dari situ bahwa seseorang yang palsu itu akan dihancurkan. Di saat itu 25 tahun telah berlalu semenjak Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) mulai mempublikasikan wahyu-wahyu beliau itu, dan bukannya menyergap beliau, namun Allah telah me- manifestasikan beratus-ratus Tanda untuk mendukung kebenaran beliau tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa tak akan ada seorang pun yang dapat menandingi pendakwaannya itu.
Orang yang menyatakan bahwa ayat Quran yang disebutkan tadi hanya berlaku di zamannya Yang Mulia Rasulullah (s.a.w.), melupakan apakah Allah tidak menyergap orang lainnya yang mengadakan dusta terhadap-Nya? Memang ini adalah satu ukuran yang dengan itu, setiap orang yang benar harus di-evaluasi. Setidaknya orang-orang yang beriman pada Kitab Suci Alqur-aan harus berhenti dari mencemoohkannya itu. Dan tidak juga bagi mereka yang mendakwakan dengan bukti Tanda yang benar di dalamnya itu akan mengerti atau mereka itu ingin menghindar dari mengertikannya.
Dengan merujuk pada Tanda-tanda Ilahi yang menunjang dan mendukung hal tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) telah menulis bahwa ada lima kejadian yang membahayakan dan mengancam jiwa Yang Mulia Rasulullah (s.a.w.), yang nampaknya keselamatan beliau saw. itu sudah tidak mungkin lagi. Jika beliau itu bukan seorang Nabi dari Tuhan yang benar maka beliau itu tidak akan terselamatkan dari kejadian tersebut. Yakni:
1) Ketika orang-orang Quraish mengepung rumah beliau dan bersumpah untuk membunuh beliau.
2) Ketika orang-orang kafir telah sampai dimulut gua yang di dalamnya itu beliau saw. bersembunyi dengan Hadhrat Abu Bakar (r.a.).
3) Pada peperangan Uhud ketika Nabi (s.a.w.) tertinggal seorang diri dan musuh-musuh sudah mengelilinginya dan menyerang beliau dengan pedang-pedangnya dengan tanpa berhasil.
4) Ketika seorang perempuanYahudi menaruh racun yang mematikan pada daging yang disuguhkan kepada beliau, tetapi Allah telah menyelamatkan beliau.
5) Ketika Khusro Pervez Kaisar Persia bermaksud membunuh beliau dan mengirim utusan untuk melaksanakan rencana tersebut.
Penyelamatan dari semuanya ini adalah sebuah testimony atas kebenaran beliau itu.
Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) mengatakan hal tersebut adalah sungguh luar biasa, dan juga bahwa ada lima kejadian yang dapat merendahkan kemuliaan dan membahayakan jiwa beliau:
1) Pada saat beliau dibawa ke pengadilan dengan dakwaan / tuduhan menghasut untuk pembunnhan terhadap Dr. Martin Clark.
2) Polisi mengajukan tuntutan kasus criminal terhadap beliau di Pengadilan Gurdaspur mengenai DSP Mr. Dowie.
3) A Karam Din dari Jehlum mengajukan dakwaan kasus criminal kepada beliau.
4) Karam Din yang sama mengajukan dakwaan kasus criminal terhadap beliau di Gurdaspur.
5) Selama penyelidikan sehubungan dengan mati dibunuhnya Lekh Ram, rumah beliau digeledah di mana semua pihak lawan berusaha sekuat mungkin, tetapi tidak dapat menemukan bukti apa-apa.
Setiap dan semua perkara pengadilan ini tidak berhasil membuktikan apa-apa.
Sungguh-sungguh kemuliaan dan kejayaan Junjungan beliau, Y.M. Nabi (s.a.w.) amat-sangat-nya ditinggikan, namun dengan ketaatannya yang sempurna kepada beliau (s.a.w.) itu, Allah Taala pun telah men-demonstrasikan sifat-Nya Yang Al Kaafi kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.).
Perkara pengadilan yang diajukan oleh Dr. Martin Clark adalah sebuah sejarah yang amat terkenal di dalam Jama’at. Di zaman tersebut, orang-orang Muslim, Hindu dan Kristiani mulai menentang terhadap Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.), tetapi Allah telah membebaskan beliau sepenuhnya dari segala tuduhan tersebut. Bagaimana pun juga, mereka, orang-orang yang merendahkan beliau atau ingin menghina beliau akan ditangani dan berhadapan langsung dengan Allah Taala. Sebagai contohnya, ketika Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) datang untuk perkara tersebut, kepada beliau disodorkan untuk duduk di kursi [sebuah tanda kehormatan yang tinggi di zamannya British Raj].
Lawan beliau, Maulvi Muhammad Hussein yang datang untuk melihat (Na ‘udzubillah min dzalik) dihinakannya Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) merasa keheranan dengan perlakuan tersebut. Ia ada di sana adalah sebagai saksi dari pihak penuntut dan Dr. Clark meminta agar kepadanya pun diberikan juga sebuah kursi; tetapi hal itu telah ditolak oleh ketua sidang Deputy Commissioner. Ketika ia itu datang untuk memberikan kesaksiannya, ia langsung minta sebuah kursi kepada Deputy Commissioner dan ditolak. Atas desakannya itu, ia secara public telah disuruh keluar dan dihinakan oleh Deputy Commissioner.
Nawab Sadeeq adalah seorang ulama terkemuka pada saat Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) menulis Buku Barahiin Ahmadiyyah. Pemerintahan Inggris telah meng-anugerahkan kepada Tuan Sadeeq ini beberapa buah gelar termasuk ‘Nawab’ itu. Betapa pun kehidupannya yang kaya-raya, ia telah berkhidmat kepada Islam dan Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) juga menganggap beliau sebagai seorang yang shaleh. Pada penerbitan buku ‘Barahiin Ahmadiyyah’ itu, Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) menulis kepada beberapa orang termasuk Nawab Sadeeq untuk menjadi langganan. Nawab mula-mula memberikan responsnya dengan sopan-santun, menyetujui untuk membeli beberapa exemplar namun kemudian diam saja. Ketika ia dihubungi untuk kedua kalinya ia menjawab dengan mengatakan hal itu adalah bertentangan dengan keinginan Pemerintahan Inggris untuk membeli atau menyokong buku-buku ke-agamaan ini, maka tak ada yang dapat diharapkan dari dia.
Huzur mengingatkan bahwa tuduhan yang dilemparkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) bahwa ia itu “ditanam oleh Inggris”, namun ulama terkenal mereka justru menolak untuk membeli bukunya itu, untuk menyenangkan Inggris. Paket buku yang dikirimkan kepadanya dikembalikan setelahnya dibuka/disobek dan bukunya juga disobek-sobek. Setelah melihat keadaan bukunya itu Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) menjadi sangat marah dan mengatakan bahwa silahkan mereka itu terus membuat senang pemerintahan mereka, Allah akan mencabik-cabik kehormatan mereka. Tidak ada harapan dari Nawab sahib, Allah Cukup untuk harapan beliau dan mudah-mudahan Pemerintahan Inggris dapat merasa senang dengan Nawab sahib.
Beberapa saat setelah itu, Pemerintahan Inggris yang sama, yang Nawab sahib berusaha menyenangkannya, membuat tuduhan terhadap dia di mana penyelidik Investigative Commission dibentuk untuk menyelidiki tuduhan bahwa ia juga terlibat di dalam pemberontakan. Semua gelar-gelarnya dicabut kembali. Ketika ia sudah merasa putus asa, ia mengirim permohonan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) untuk didoakan. Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) berdoa bagi beliau dan dengan doa-doa Hadhrat Sahib kehormatannya itu dipulihkan.
Munshi Illahi Buksh adalah seorang Akuntan yang dihormati Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.). Namun, kemudian ia menjadi seorang musuh, ia menggunakan bahasa dan kata-kata yang tidak semestinya dan menuduh bahwa semua wahyu-wahyu Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) itu adalah tidak benar. Ia itu tidak mau menerbitkan wahyunya sendiri mengenai Masih Mau’ud karena takut akan dituntut secara hukum. Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) meyakinkan kepadanya bahwa ia itu tidak akan dituntut oleh hukum, karena ia hanya menginginkan Takdir Ilahi agar orang-orang itu mengetahui siapa orang yang dari Tuhan itu. Beliau mengatakan jika seandainya wahyu Munshi sahib adalah dari Tuhan maka sudah pasti [na’udzubillah min dzalik] kebinasaan akan menimpa Masih Mau’ud. Namun, jika Allah yang Memiliki Ilmu itu menentang peng-andaian yang negative ini maka hasilnya akan jelas. Beliau meyakinkan kepada Munshi sahib bahwa tidak akan ada penyerangan pada martabatnya – apa yang beliau inginkan itu adalah untuk membuktikan ketidak-salahannya, yang merupakan cara dari Nabi-nabi Tuhan, sebagaimana yang Hadhrat Yusuf (a.s.) inginkan. Akhirnya Munshi sahib menulis sebuah buku 400 halaman dengan wahyu-wahyu yang menentang kepada Masih Mau’ud (a.s.) dan mengirimkannya kepada beliau. Tidak ada dari wahyu-wahyu tersebut yang mendapatkan dukungan Ilahi untuknya itu dan binasanya Masih Mau’ud karena pest sudah berlalu.
Sebaliknya, ianya sendiri terkena oleh penyakit pest dan meninggal pada tahun 1907. Wabah pest tersebut sudah membuat mala-petaka [di India] untuk selama sebelas tahun, tetapi Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dan orang-orang Jama’atnya tetap selamat, dan saat ini, dengan dukungan Ilahi itu, Jama’at telah bekembang ke seluruh dunia.
Mirza Imam Din sahib dan Nizam Din sahib adalah saudara sepupu Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.). Mereka memperlihatkan rasa permusuhan yang besar terhadap beliau dan juga pada Islam secara umum dan mengatakan banyak hal-hal yang berani tentang Yang Mulia Rasulullah (s.a.w.). Mereka bersekongkol dengan orang-orang Hindu dan pada satu saat Lekh Ram tinggal di Qadian untuk selama dua bulan. Mereka tidak melewatkan satu hal yang sepele pun untuk mengganggu Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.).
Mereka membangun dinding untuk menghentikan orang-orang yang berkunjung kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dan tidak mau mendengar permintaan dari siapa pun untuk membongkar dining tersebut. Satu-satunya tuntutan pengadilan yang pernah diajukan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) tehadap seorang pihak lawan adalah terhadap orang-orang ini yang adalah untuk menghilangkan penyebab ketidak-nyamanan terhadap orang-orang Jama’at. Beliau banyak-banyak berdoa untuk perkara ini dan menerima sebuah wahyu yang kuat dari Allah bahwa beliau akan secara terang akan memenangkan perkara di pengadilan ini, tetapi pada saatnya yang telah ditentukan. Walaupun terlambat dan bahkan para pembelanya nampak sudah berputus asa, akhirnya sebuah dokumen ditemukan di antara catatan-catatan, dan yang sebagai akibatnya membuktikan hasil perkara pengadilan itu adalah untuk kemenangan bagi Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) dan dinding pun dibongkar.
Hakim mengatakan bahwa jika Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) menginginkannya sebuah tuntutan hukum lainnya bisa diajukan untuk meminta ganti biaya ganti rugi. Para ahli hukumnya mengajukan tuntutan ini. Sementara itu Mirza Imam Din telah meninggal dan Mirza Nizam Din-lah yang dipanggil ke pengadilan. Keadaan dia adalah sebagaimana yang sudah di-prediksikan dalam wahyu bahwa ia itu tidak punya apa-apa lagi untuk membayarnya. Ia meminta konsesi dengan pernyataan bahwa mereka itu adalah satu famili. Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) mengatakan bahwa bukanlah beliau yang mengajukan perkara tersebut. Beliau meng-instruksikan kepada pengacaranya untuk tidak perlu mengejar perkara ini lagi dan beliau membuat secara tertulis bahwa walaupun orang-orang tersebut telah membuat penghinaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.), keputusan pengadilan telah dijatuhkan dan beliau tidak ingin untuk melakukan pembalasan.
Huzur mengatakan masih ada banyak lagi peristiwa-peristiwa yang menggambarkan kejadian serupa tentang dukungan Ilahi bagi Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.). Memang bahkan setelah wafatnya beliau pun setiap kali permusuhan itu muncul maka datanglah pertolongan dari Allah dan Jama’at pun dapat selamat dari akibat buruknya permusuhan tersebut. Walaupun adanya perlawanan dan dengan pembatasan dari pihak Pemerintahan pun, Jama’at ini terus berkembang. Walaupun dengan jumlah dana yang kurang pada saat ini, seorang Duniawi itu tidak dapat membayangkannya betapa Jama’at ini dapat berjalan.
Jika seorang Duniawi yang bijak melihat anggaran yang dimiliki oleh Jama’at, mereka dapat mengetahuinya bahwa jumlah ini adalah jauh lebih sedikit dari pendapatan setahun seorang yang kaya-raya di dunia. Betapa pun juga, adalah begitu sangat besarnya keberkahan yang menampak cukuplah bagi seorang duniawi di mana mereka melihat bahwa keadaan keuangan kita itu kuat dan memberi bayangan bahwa kami itu memiliki harta kekayaan yang besar. Huzur mengatakan dengan karunia rahmat Allah keuangan kita itu kuat dan ini adalah karena jumlah pembelanjaan yang benar digunakan untuk keperluan yang tepat. Huzur mengingatkan bahwa dalam kunjungannya ke Afrika terakhir itu, pertanyaan pertama yang diajukan oleh President Benin kepada beliau pada pertemuan tersebut adalah berapa juta dollar investasi yang akan dilakukan oleh Jama’at di negeri ini!
Huzur mengatakan adalah fakta, dugaan ini muncul dikarenakan pertolongan Allah itu ada bersama kita dan ini adalah sebuah Tanda dari Tuhan Islam yang Hidup yang dapat terlihat pada setiap waktu, yang dapat dirasakan oleh setiap Ahmadi dan dunia pun ikut merasakannya. Jika Tuhan, Yang Pemilik langit dan bumi, mengirimkan hamba-Nya ke dunia untuk menyebarkan amanat-Nya, Dia meyakinkan kepada mereka dalam segala caranya dan menyatakan kepada mereka dalam setiap perkara itu. ‘Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-nya?’ (Az Zumar, 39:37).


A laisalaahu bi kaafin ‘abdahuu ……….
Dia juga menyatakan: ‘Dan, Allah Maha Mengetahui benar musuh-musuhmu. Dan, cukuplah Allah sebagai Pelindung, dan cukuplah Allah sebagai Penolong.’ ( An-Nisaa, 4:46)


Wallaahu ‘alamu bi’adaa-ikum wa kafaa billaahi waliyyaw wa kafaa billaahi nashiiraa.
Huzur mengatakan kita menyaksikan dukungan dari Ilahi ini dan yang menolongnya di dalam setiap langkah kita, semoga Allah Taala selalu demikian agar kami itu benar-benar menghormati kewajiban mereka itu dan semoga kita dapat terus dan senantiasa menyaksikannya.
Kemudian Huzur mengatakan bahwa beliau sudah menceriterakan tentang Baha’ullah dalam khutbah beliau yang lalu, bahwa ia mendakwakan kenabiannya. Huzur mengatakan apa yang sudah dikatakannya itu, bahkan jika pendakwaannya sebagai nabi itu dapat dipercaya, pertolongan Ilahi itu tidak ada bersama dia. Huzur mengatakan tidaklah benar untuk mengatakan bahwa Baha’i itu tidak menganggap dia sebagai seorang nabi karena banyak di antara anak-anaknya yang mengatakan bahwa ia itu adalah seorang nabi. Memang ia menyatakan dirinya sebagai tuhan.
Undang-undang agama yang ia perkenalkan dan yang terus tidak dipublikasikannya merujuk pada pendakwaan dirinya sebagai tuhan. Walau pun ia itu tidak menyatakan dirinya sebagai nabi, tetapi sebagaimana kenabian itu ada disebutkan [Khutbah Jum’at yang lalu], arti signifikan-nya dari apa yang pernah dikatakannya itu adalah bahwa walau pun dapat diterima bahwa ia itu telah mendakwakan kenabiannya, Allah itu tidak memperlihatkan pertolongan dari-Nya dan dukungan kepadanya. Di beberapa tempat, orang-orang Ahmadi itu disama-kan dengan Baha’i dimana kedua golongan ini dianggap sebagai pendusta. Pertolongan Allah kepada Hadhrat Masih Mau’ud (a.s.) ada jelas nyata, tetapi tidak terlihat bagi orang-orang Baha’i ini.
Huzur mengatakan beliau ingin membuat beberapa hal ini jelas, karena ada orang-orang yang mudah dipengaruhi dengan informasi yang tidak benar itu, sebagai contohnya di beberapa tempat di Africa dan juga di Pakistan. Haruslah diingat bahwa pendakwaan dari Baha’ullah itu sendiri adalah sebagai tuhan dan anak laki-laki special-nya yang ditunjuk sebagai penggantinya pun menganggap dia mendakwakan dirinya sebagai tuhan. Caranya mereka itu adalah dengan secara perlahan-lahan memperangkap mereka orang-orang yang suka damai itu dengan informasi yang tidak benar. Mereka pada mula-mulanya tidak menyebutkan pendakwaannya sebagai tuhan itu, tetapi pada saat berikutnya barulah mereka meng-implementasi-kan undang-undang agama mereka, bahwa ia itu, adalah sebagai tuhan yang diwahyukan kepadanya sendiri. Bahwa ia itu adalah adalah Tuhan yang juga sebagai manusia. Maulana Abul Atta yang pernah di Palestina, menyebutkan bahwa beberapa orang di antara mereka itu, termasuk seorang dari anak-anaknya, suka datang ke mesjid kita untuk melakukan Shalat lima waktu sehari, walaupun shalat berjama’ah itu tidak biasa di antara mereka, pada kenyataannya mereka melakukan Shalat yang lima waktu itu. Untuk mendapatkan sympathy dari orang-orang Kristiani mereka mempertahankan bahwa Baha’ullah itu adalah manifestasi dari Tuhan, sebagaimana orang-orang Kristiani itu menganggap Isa (a.s.) itu adalah anak Tuhan.
Baha’ullah itu dihukum penjara untuk waktu yang lama, yang dari sana ia mempertahankan diri selama di dalam penjara itu sebagai Penguasa dari dunia dan tidak ada tuhan melainkan dia. Ia pun mempertahankan diri untuk senantiasa menolong orang walaupun setelah kematiannya. Huzur mengingatkan, seorang tuhan yang macam bagaimana, yang tidak dapat menyelamatkan dirinya dari hukuman penjara. Lalu apa gunanya dia itu bagi orang yang lainnya?
Mengenai jumlahnya, Abdul Baha, anaknya dan penggantinya mengatakan bahwa, adalah mungkin seorang Kristiani itu adalah Baha’i, seorang Yahudi adalah Baha’i, seorang Freemason adalah Baha’i atau seorang Muslim itu adalah Baha’i. Huzur mengatakan, mereka itu membuat yakin kepada orang-orang supaya dekat pada Baha’ullah sesuai dengan kepercayaan agama mereka masing-masing. Satu kali mereka itu dapat terbujuk maka ajaran yang sebenarnya baru akan ditunjukkan kepada mereka.
Huzur mengatakan, bilamana Allah mengirim Nabi-Nya ke dunia, Dia memerintahkan mereka untuk menyampaikan amanat-Nya kepada dunia. Namun orang-orang Baha’i ini mengatakan amanat tersebut tidak boleh diberikan kepada orang lainnya serta menganggap bahwa penyebaran agama itu dilarang di beberapa negara.
Dalam muhibahnya ke Barat seorang wanita Inggris yang telah menjadi seorang Baha’i datang menemui Hadhrat Khalifatul Masih II (r.a.) dengan seorang temannya bangsa Iran. Beliau bertanya kepada wanita ini apakah Kitab Suci Alqur-aan tidak membawa undang-undang syari’ah yang sempurna, lalu apa yang baru yang dapat ia pelajari dari Baha’i?
Wanita ini mengatakan bahwa hukum syari’ah [dari Islam] tidak sempurna, ada yang bertentangan dengan alamiah, seperti, izin kepada pria untuk menikah empat kali, di mana Baha’ullah sudah sudah puas dengan satu pernikahan saja - Huzur mengingatkan bahwa ada protest secara besar-besaran di Barat atas empat kali pernikahan ini -
Atas hal ini Hadhrat Khalifatul Masih II (r.a.) mengingatkan kepada wanita ini bahwa Baha’ullah sendiri menikah dua kali, atas hal ini ia menjawab bahwa perkawinannya itu adalah sebelumnya pendakwaan dari dirinya - Huzur mengomentari bahwa tuhan ini sungguh mengherankan bahwa ia tidak mengetahui undang-undang agama apa yang ia akan keluarkan di hari yang akan datang ini -
Ketika Hadhrat Khalifatul Masih II (r.a.) menanyakan mengapa kemudian anaknya menikah dua kali?
Teman yang orang Iran menjawab, ia membuat istrinya kedua itu sebagai saudarinya. Hadhrat Khalifatul Masih II (r.a.) bertanya mengapa ia punya keturunan juga dari perempuan ini, apakah orang akan mempunyai keturunan dari saudarinya? Huzur menyimpulkan kami harus menghindari orang-orang ini, mereka itu dengan diam-diam menyerang kita. Mereka itu diperintah untuk menyembunyikan undang-undang agama mereka dengan penuh kerahasiaan.
Huzur mengatakan Allah menyatakan tentang orang yang membuat pendakwaan palsu dan berdusta dalam kenabiannya bahwa Dia akan memutuskan urat nadinya dan menghinakan mereka di dunia ini juga. Bagamana pun juga berkenaan dengan mereka yang mendakwakan dirinya sebagai Tuhan, Allah menyatakan: “Dan barangsiapa berkata di antara mereka, “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain Dia,” maka dialah yang akan Kami ganjar dengan Jahannam. Demikianlah Kami balas orang-orang yang aniaya.” (Al Ambiyaa’, 21:30)


Wa may yaqul minhum innii ilaahum min duunihii fa dzaalika najziihi jahannama ka dzaalika najzizh zhaalimiin.
Huzur berdoa semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada kita semua untuk dapat benar-benar taat patuh kepada orang yang dikirim oleh Tuhan, agar Dia melindungi kami semua dan berada dalam berkah dan rahmat-Nya dan senantiasa menjadikan kami orang-orang yang mendapat kedekatan kepada-Nya.

Tuesday, January 20, 2009

“Al-Kaafi”, Yang Maha Mencukupi – Sifat Ilahi

Huzur (aba) memberikan ceramah mengenai sifat Ilahi Al Kaafi (Yang Maha Mencukupi) dalam Khutbah Jum’atnya hari ini. Dengan menerangkan artinya dari Kamus Bahasa Arab Lexicon, Huzur (aba) mengatakan bahwa Al Kaafi ini adalah satu sifat dari Allah yang memberikan arti satu Wujud Yang Maha Mencukupi dan tidak memerlukan apa pun dari yang lain atau tidak mengharapkan sesuatu apa pun juga dari pihak lainnya.
Sifat ini biasa digunakan oleh orang-orang Muslim untu menyatakan rasa kebersyukuran mereka dan kerendahan mereka terhadap Tuhan. Bilamana seseorang merenungkannya artinya dengan secara mendalam, maka orang itu dating pada kesimpulan bahwa tidak ada wujud atau zat lainnya selain dari Allah Taala yang mencukupi bagi mahluk ciptaan-Nya. Adalah Dia-lah Yang memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta untuk melindungi kami dan menghilangkan segala macam keburukan dari kami. Huzur (aba) menyebutkan dan menerangkan Hadits berikut dalam dari sifat Ilahi ini:
"Barang siapa yang membaca dua ayat terakhir dari Surah Al Baqarah pada malam hari, maka akan dicukupkan bagi mereka." [Bukhari]
Kedua ayat terakhir dari Surah Al Baqarah adalah sebagai berikut:

Aamanar rasuulu bi maa unzila ilaihi mir rabbihii wal mu’minuuna kullun aamana billaahi wa malaa-ikatihii wa kutubihii wa rusulihii laa nufarriqu baina ahadim mir rusulihii wa qaaluu sami’naa wa atha’naa gufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir (2:286.)
Rasul kita ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhan-Nya, dan begitu juga orang-orang Mukmin; semuanya beriman kepada Allah dan Malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka mengatakan, “Kami tidak membeda-bedakan di antara seorang pun dari Rasul-rasul-Nya yang satu terhadap yang lainnya;” dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, kami mohon ampunan Engkau, dan kepada Engkau-lah kami akan kembali.”

Laa yukaliifullaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa ‘alaiha mak tasabat rabbanaa laa tu-akhidznaa in nasiinnaa au akhta’naa rabbana wa laa tahmil ‘alainaa ishran ka maa hamaltahuu ‘alal ladziina min qablinaa rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii wa’fu’annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maulaanaa fan shurnaa ‘alal qaumil kaafiriin
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau membebani kami tanggung-jawab seperti yang telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan maafkanlah kami, dan ampunilah kami serta kasihanilah kami karena Engkau-lah pelindung kami., maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.”
(2:287)

Huzur (aba) mengatakan bahwa jika kita merenungkan arti dari ayat-ayat ini, di sana sudah terkandung doa-doa untuk meminta perlindungan terhadap segala macam kejahatan dan menjadi sarana untuk peningkatan keimanan.
Ayat yang pertama adalah untuk mensucikan jiwa dan memperkuat keimanan seseorang. Kami itu harus menyatakan keimanan kami akan semua artikel dalam ayat tersebut, dan bukan hanya di mulut saja, tetapi harus menanamkannya dengan keyakinan yang penuh di dalam hati kami dan benar-benar mengamalkan apa yang kami imani itu.
Oleh karena itu, di samping memiliki iman yang teguh dan inklusif itu, orang-orang beriman ini haruslah mengamalkannya juga apa yang mereka imani itu. Beriman kepada Tuhan hanyalah akan menjadi sungguh-sungguh jika kita berjuang untuk meningkatkan ke-takwa-an. Beriman kepada para Malaikat hanyalah menjadi benar jika kami merasa yakin bahwa para Malaikat itu melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka dan melaksanakan tanggung-jawabnya mereka itu. Kami itu harus memakluminya bahwa semua Kitab-kitab itu adalah diturunkan dari Tuhan (walau pun dalam keadaannya yang sekarang sudah dirubah oleh orang-orang dikarenakan berjalannya waktu, kecuali Kitab Suci Alqur-aan) di mana semua doktrin dan ajaran dari Kitab-kitab tersebut sekarang tersimpan dengan aman di dalam Kitab Suci Alqur-aan yang di lindungi sampai zaman yang akan datang sekali pun.
Satu sifat karaktersitik yang unik dari Islam adalah yang mempersyaratkan untuk menganut kepercayaan kepada semua Nabi-nabi. Huzur (aba) secara khusus menyebutkan pada semua Nabi-nabi, yaitu bukan saja kepada Nabi-nabi yang dating sebelumnya Yang Mulia Rasulullah (saw), dengan menunjukkan pada kenyataan bahwa Hadhrat Isa Almasih yang dijanjikan, Masih Mau’ud (as) adalah datang setelahnya Rasulullah saw., sebagai seorang Nabi Allah di mana menjadi kewajiban dari semua orang-orang Muslimin untuk menerima beliau sebagai seorang Nabi.
Mereka yang dinamakan sebagai “Ulama” Islam sekarang ini sedanga menunggu-nunggu kedatangannya Almasih di akhir zaman dalam sebuah bentuk yang bukan menjadi Sunnah Tuhan. Yang bukan saja mereka itu akan melemahkan keimanan mereka sendiri tetapi juga merusak pada orang-orang yang lainnya. Jika bukti akan kebenaran dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) sudah ada dengan dukungan dari Kitab Suci Alqur-aan, maka semua orang Muslimin itu harus berupaya sekuat tenaga untuk mendapatkan kebenaran tersebut dan menjadi penerima berkah dan rahmat dari Allah dengan ketaatannya kepada-Nya itu.
Semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada saudara-saudara Muslim semua untuk dapat mengerti akan rinciannya yang halus dari Kitab Suci Alqur-aan ini. Aamiiin. Kesimpulannya adalah, bahwa beriman pada yang tersebut di atas tadi harus terus berlanjut dan sejajar dengan komitmen yang dipraktekkan pada semua perintah-perintah dari Allah tersebut.
Ayat yang kedua dimulai dengan pernyataan bahwa tidak ada sesuatu jiwa yang dibebani dengan hal yang di luar kemampuannya. Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah mengatakan bahwa kami itu telah diperintahkan untuk mengikuti sunnah dari Yang Mulia Rasulullah (saw). Bilamana kami itu tidak dikaruniai dengan sarana kemampuan untuk melaksanakan perintah ini, maka kepada kita tidak akan diberikan perintah ini karena Allah Yang Maha Kuasa tidak akan membebani jiwa kami di luar kemampuannya.
Jadi ayat yang pertama itu meminta kepada kami untuk memperkuat keimanan kami, dan ayat yang kedua secara logikanya membangkitkan idea bahwa mereka yang sudah kuat dalam keimanannya itu tidak pernah akan mengabaikan perintah-perintah Tuhan ini dan akan berusaha sekuat tenaganya untuk melaksanakan perintah tersebut dan mengamalkannya di dalam kehidupannya. Islam adalah agama bagi semua orang dan yang telah menyediakan banyak kemudahan sehingga dapat mengamalkannya dengan secara mudah.
Huzur (aba) mengatakan bahwa kami itu sudah berusaha segala macam cara untuk meraih tujuan duniawi, jadi mengapa kita itu jika tidak berusaha sekuat tenaga untuk menjamin didapatnya ganjaran spiritual. Contoh dari Yang Mulia Rasulullah (saw) adalah yang harus kita ikuti, dan oleh karena itu kami harus meminta pertolongan Allah, bahkan untuk meningkatkan dan memperbaiki standard peribadatan kami; yang dengan demikian kita akan dapat meningkatkan keimanan kita.
Bagian yang berikutnya dari ayat tersebut menyinggung tindakan dari manusia, yakni apa pun yang baik atau yang buruk yang ia kerjakan maka semuanya akan kembali kepada dia. Kebaikan akan meraih ganjaran yang bagus dan keburukan akan memberikan akibat konsekwensinya. Seorang yang beriman haruslah menaruh perhatian akan tindakan perbuatannya pada setiap saat sehingga kita dapat meraih kedekatan kepada Tuhan dan meyakinkan diperoleh Rahmat-Nya. Kemudian apakah dia akan bersujud dalam bersyukur kepada Tuhan, untuk meyakinkan pensucian jiwanya. Orang itu haruslah menyadarinya bahwa ia itu dijadikan begitu lemah dan tidak berdayanya, jadi bilamana ia sudah melakukan pekerjaan yang salah, secara sengaja atau pun tidak sengaja, karena kealfaan atau ke-tidak-tahuannya, karena tujuannya yang tidak suci atau dikarenakan kelemahan-kelemahan lainnya, maka ia akan memohon ampunan dari Tuhan-nya.
Doa permohonan berikutnya ialah, ya Tuhan janganlah kami diberikan beban seperti yang diberikan kepada orang-orang sebelum kami, yang tidak taat kepada Engkau atau yang Engkau tidak senangi; kami memohon perlindungan dari ujian-ujian duniawi yang sedemikian, yang di luar kemampuan kami untuk menanggungnya. Tuhan memberikan cobaan kepada orang-orang dalam bentuk kekayaan atau anak-anak atau pun cara lainnya, sehingga kita itu harus meminta pertolongan rahmat daripada-Nya dari segala macam ujian dan cobaan ini.
Ya Tuhan! Janganlah Engkau membebani kami dengan beban tanggung-jawab yang di luar kemampuan kami dalam menghadapi kesukaran dan kesulitan ini dan teguhkanlah kami di jalan yang lurus agar supaya janganlah sampai kami membuat Engkau itu tidak senang. Berikanlah rahmat-Mu kepada kami dan jadikanlah kami di antara orang-orang yang Engkau kasihi. Bimbinglah kami dan berikanlah kepada kami kemenangan terhadap orang-orang yang kafir dan anugerahilah kami dengan kebaikan dan rahmat-Mu. Buatlah pembeda yang jelas antara kami dengan para musuh serta jadikanlah kami unggul di atas mereka itu.
Huzur (aba) mengatakan bahwa jika kita ingin dapat meraih faedah dari doa-doa ini, maka kita harus membaca ayat-ayat ini dengan mencamkan di dalam pikiran dan hati yang penuh gairah untuk menjadi penerima dari kebaikan dan berkah rahmat dari Allah Taala. Semoga Allah Taala membuat kami merendah di dalam usaha-usaha kami itu, dan melindungi kami dari pengaruh bujukan Syaitan serta memberi taufik kepada kami semua untuk dapat mengerti secara hakiki akan keindahan ajaran dan kebijaksanaan Alqur-aan ini, Aamiiin.
Di akhir, Huzur (aba) meminta perhatian dari semua orang-orang Ahmadi di seluruh dunia untuk mendoakan bagi orang-orang Palestina agar terhindar dari keadaan buruk dari tangan Israel yang sedang mereka hadapi itu. Keadaannya yang semakin hari semakin memburuk, bahkan orang-orang yang tadinya mendukung gerakan Israel itu sekarang berteriak memprotes atas kekejaman orang Israel ini terhadap orang-orang Palestina yang tidak berdosa, yang berhadapan dengan ketakutan yang amat sangatnya.
Bangsa-bangsa yang selama ini tinggal diam, adalah juga menjadi bagian dari kekejaman terhadap orang-orang yang tidak bersalah ini. Satu-satunya jalan di mana kita dapat menolong orang-orang Palestina ini adalah berdoa bagi mereka dengan sepenuh hati kami. Huzur (aba) mengemukakan bahwa sudah ada organisasi-organisasi penolong yang sedang mengirimkan obat-obatan dan supply lainnya bagi para korban, jadi orang-orang Ahmadi harus menolong institusi-institusi ini tersebut. Humanity First juga sedang memberikan pertolongannya dan Jamaat pun akan memberikan bantuannya apa yang memungkinkan. Semoga Allah menurunkan belas kasihan-Nya, Aamiiin.

Wednesday, December 3, 2008

Tujuan Utama Diciptakan-Nya Manusia

Setelah menilawatkan Surah Al Fatihah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba), Khalifatul Massih V, memulai Khutbah Jumah beliau dengan mengungkapan rasa syukur beliau kepada Allah Swt yang telah memudahkan beliau dapat berkunjung ke Negara Bagian Kerala di Hindustan [India, Selatan]; yang merupakan suatu kesempatan khas di dalam sejarah Jamaat. Sebab, kunjungan kerja ini tidak sempat terlaksana pada muhibah tahun 2005 yang lalu meskipun sangat diharapkan oleh seluruh Jamaat di Negara Bagian ini.
Huzur (aba) bersabda, kadangkala memang tak mungkin dapat memahami sepenuhnya pengkhidmatan dan loyalitas suatu Jamaat sebelum kita mendatangi dan mengalaminya langsung. Walaupun sebelumnya pernah bertemu dengan kalangan Ahmadi dari daerah Hindustan [Selatan] ini di Qadian ataupun di London, tetapi berjumpa langsung di daerah mereka sendiri sungguh merupakan suatu kesempatan yang unik dapat menyaksikan keikhlasan dan karunia Allah Swt terhadap Jamaat di sini secara pribadi. Sebagian dari anggota rombongan [Huzoor] berkomentar, kedispilinan Jamaat di daerah Kerala mengingatkan mereka terhadap Jamaat Indonesia; sedangkan sebagian lainnya mengatakan, keikhlasan pengkhidmatan mereka hampir sama dengan Jamaat Afrika; namun saya sendiri merasakan, semua Ahmadi dimanapun mereka berada, umumnya memiliki jiwa pengkhidmatan dan keikhlasan yang sama. Hanya cara mereka mengungkapkannya-lah yang berbeda.
Boleh jadi banyak di antara mereka yang baru pertama kalinya bertemu langsung dengan Khalifah di sepanjang hidup mereka, namun yang tampak di dalam sinar mata mereka adalah kecintaan dan keikhlasan penghidmatan kepada Jamaat. Hal ini semata-mata berkat keimanan mereka kepada Imam Zaman. Namun sangat disayangkan, kaum ghair-Ahmadi tak mampu melihat fakta keindahan rohani ini; mereka masih meragukan kebenaran pendakwaan kedatangan Al Masih.
Adalah kecintaan kepada Khilafat yang akan membawa Jamaat ke ketinggian yang tak terbatas, hingga akhirnya dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Yang dimaksud dengan tujuan utama yang diinginkan oleh setiap orang Ahmadi adalah memperoleh qurb-Ilahi, dan mendapatkan keridhaan-Nya. Untuk itu perlu perjuangan keras hingga akhir hayat dengan berbagai amal ibadah kita, dengan mentaati berbagai perintah Rasulullah Saw dan juga berusaha mencapai kwalitas rohani sebagai mana yang dikehendaki oleh Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Hendaknya diingat, setelah Baiat kepada beliau a.s., tujuan utama kita adalah mencapai ketinggian rohani sebagaimana yang beliau ajarkan. Jika tidak demikian, membacakan berbagai nazm (syair) puja-puji kepada Khilafat tentulah tiada arti.
Berbagai bangsa mampu memperlihatkan pengorbanan jiwa raga yang sedemikian rupa demi untuk pemimpin duniawi mereka agar mencapai tujuan mereka. Namun, seberapa banyak kaum [Muslimin] yang berkorban sama hebatnya demi untuk Allah dan Rasulullah Saw ? Padahal, pengorbanan bagi pemimpin duniawi tak membawa hikmah apapun karena mereka tidak mengikuti ajaran Islam. Sedangkan pemimpin sejati di akhir zaman ini adalah Hadhrat Imam Mahdi a.s., yang kedatangannya adalah untuk menghidupkan agama dan menegakkan syariat Islam (yuhyiddina wa yuqimusy-syariah). Oleh karena itu setiap Ahmadi hendaknya menjalankan segala perintah Alquran sebagaimana yang telah diajarkan oleh Hadhrat Masih Ma'ud a.s.. Karena hanya dengan cara demikianlah kita dapat menjadi seorang Ahmadi sejati.
Selanjutnya Huzoor (aba) membacakan kutipan berbagai tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. yang menekankan setiap Ahmadi agar memiliki hubungan suci dan murni dengan Allah Swt dengan cara menutup segala sifat buruk (seperti tamak, khianat, menipu, angkuh, sombong, egois, dlsb). Sebab, jika tidak memiliki jalinan hablum-minallah yang demikian erat, manusia sangatlah lemah, cenderung ke dekadensi moral, yang membuat mereka tak mampu menghadapi berbagai penderitaan. Oleh karena itu, senantiasalah berusaha untuk menjadi pembawa cahaya rohani yang dapat mengusir kegelapan, sehingga anda pun terlindung dari keburukan tipu daya Syaitan.
Huzoor (aba) mengingatkan, target kita yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau'ud a.s. adalah senantiasa memohon bantuan Allah Taala, dan membina hubungan langsung dengan-Nya. Hal ini hanya akan dapat tercapai apabila kita mengutamakan tujuan utama diciptakannya manusia, sebagaimana tercantum di dalam Alquran Karim,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan tidak Aku ciptakan Jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku" (51:57).
Seandainya kita senantiasa mengingat hal ini, maka usaha untuk menjauhi segala keburukan dan menjalankan segala kebaikan yang telah diperintahkan Allah tentulah akan membuahkan hasil. Amalan shalihan ini akan memperkuat hablum-minallah kita. Ingatlah, Khilafat hanya dijanjikan bagi mereka yang bertaqwa dan suci dari segala macam bentuk kemusyrikan. Maka jika kita menginginkan agar karunia [Khilafat] ini tetap bersama kita, maka ingatlah selalu hakekat tujuan hidup ini.
Cara yang paling utama untuk mengungkapkan menyembah Tuhan adalah dengan mendirikan Salat Lima Waktu. Setiap laki-laki, wanita, tua maupun muda hendaknya selalu ingat, bahwa apabila mereka malas melaksanakan perintah Salat, maka mereka pun tak mampu mencapai derajat muttaqi.
Setelah membacakan beberapa tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s., Huzoor (aba) bersabda, setelah beriman kepada Allah Yang Maha Tunggal, Salat adalah rukun kedua yang sangat penting, yang anda sekalian harus melaksanakannya seolah-olah anda sedang berada di hadapan-Nya. Jika seseorang tengah menghadap seorang pemimpin besar, tentulah timbul semacam kecemasan di dalam dirinya. Apalah lagi jika tengah menghadap Allah Swt Yang Maha Berdaulat. Oleh karena itu, membayangkan seolah-olah Allah sedang menyaksikan gerak-gerik kita ibadah Salat kita, adalah penting. Akan membuat anda sebagai ibadullah sejati.
Rasulullah Saw bersabda, setiap Muslim hendaknya melaksanakan Salat seolah-olah Tuhan tengah berada di hadapannya. Jika ia tidak mampu berbuat seperti itu, sekurang-kurangnya memahami bahwa Allah Yang Maha Mengetahui segala isi hati manusia, tengah menyaksikan diri anda. Jika anda terbiasa melakukan hal ini, maka Salat anda pun akan menjadi khusyu. Suci dari segala macam pikiran duniawi. Namun bagi mereka yang belum dapat melaksanakan hal ini tidak perlu berkecil hati. Ini hanyalah patokan, yang anda harus berusaha untuk menjalankannya. Karena inilah satu-satunya cara untuk memperoleh kemajuan dan tambahan karunia-Nya. Allah Swt berfirman, "Karunia-Ku meliputi segala sesuatu" (7:157).
Dikarenakan kita menerima segala kebaikan semata-mata berkat karunia Allah, maka Dia pun akan memperkuat berbagai ikhtiar kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Dan seandainya setiap Ahmadi berusaha untuk ini, tentulah Jamaat akan memperoleh banyak manfaatnya.
Dengan karunia Allah Swt banyak dari kalangan Jama'at yang terbiasa melaksanakan salat Tahajud, sehingga lebih maju lagi kecintaan mereka terhadap Allah Taala. Akan tetapi Hadhrat Masih Mau'ud a.s. menginginkan sebagian besar anggota Jamaat dapat meraih standar ibadat ini karena seiring dengan meningkatnya kwantintas dalam Ketaqwaan anggota, maka kita pun akan menyaksikan keunggulan Jama'atnya. Amal ibadah dan amal shalih kita akan dapat menarik hati orang lain, sehingga akan menjadi sumber kegiatan “Dawat Ilallah”.
Huzoor (aba) bersabda, dengan karunia Allah Taala, banyak kalangan Ahmadi yang bermulaqat dengan beliau di Kerala dipenuhi jiwa pengkhidmatan berkat keikhlasan keimanan mereka. Dan mereka yakin, ini semua berkat terkabulnya doa-doa mereka, sehingga mereka pun berikhtiar lebih banyak lagi untuk mencapai qurb-Ilahi lebih lanjut. Hal ini dapat terlihat dari permohonan doa mereka agar anak keturunan mereka senantiasa terpelihara di dalam jalan yang lurus. Huzoor (aba) menasehati, agar supaya keimanan mereka tidak menjadi lekang, berusahalah untuk meningkatkan kondisi rohani sekaligus membuang segala bentuk kemusyrikan yang senantiasa mempengaruhi kehidupan anda. Dikarenakan kehidupan sehari-hari di Hindustan banyak berhubungan dengan mayoritas ghair-Ahmadi [ghair-Muslim], sangat boleh jadi praktek “bid'ah” (mengada-adakan praktek keagamaan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Saw) menjadi bagian dari kehidupan anda. Oleh karena itu lindungilah diri anda sekalian, karena hal tersebut dapat mengarahkan anda kepada perbuatan Syirik.
Kaum Ahmadi di Negara Bagian Kerala sudah 100% melek huruf. Oleh karena itu jadikanlah keunggulan ini untuk melindungi keimanan anda, sekaligus untuk menambah pengetahuan agama. Sehingga keimanan anda akan semakin menguat, dan generasi penerus anda terlindungi. Islam telah datang ke daerah ini sejak periode awalin. Dan Allah Taala pun telah memudahkan kaum ini untuk menerima kebenaran pendakwaan Hadhrat Imam Mahdi a.s. sejak periode awal. Oleh karena itu upayakanlah berbagai cara untuk menablighkan kebenaran missi beliau. Berusahalah untuk menarik banyak orang ke bawah panji kebenaran Rasulullah Saw. Inilah satu-satunya cara untuk memperoleh najat, keselamatan.
Dunia di sekeliling kita ini tengah memperhatikan Jamaat Ahmadiyyah, baik dalam bentuk kebencian ataupun ingin mempelajari lebih dalam. Maka dengan mengadakan inqillabi haqiqi, yakni perubahan suci di dalam diri masing-masing, lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan lebih giat beribadah kepada-Nya, maka kita pun akan berhasil meraih kemenangan itu. InshaAllah.

o o O o o
Please note: Department of Tarbiyyat Majlis Ansarullah USA and Jamaat BaKul takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
transltByMMA/LA120208

Wednesday, November 26, 2008

Sifat Al-Wahab (II) Allah Swt & Barkat Khilafat

Huzur menerangkan suatu doa yang tercantum di dalam Alquran yang juga merujuk kepada sifat Al Wahab Allah Swt di dalam Khutbah Jumah beliau hari ini.
Doa khas di dalam Surah Al Imran, ayat 9 (3:9) itu adalah,
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
yang terjemahannya sebagai berikut; “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bengkokkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Dan berilah kami rahmat dari sisi Engkau; sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”
Huzur bersabda, permohonan doa khas ini dipanjatkan kepada Allah Swt dengan menyebutkan salah satu Asma-Nya, ialah Al Wahab.
Menerangkan lebih lanjut keindahan doa ini, Huzur mengungkapkan penekanan pembacaannya sebagai berikut; 'Ya Tuhan kami, berkat rahmat dan hidayah-Mu, Engkau telah memudahkan kami untuk menerima seorang abdi sejati Rasulullah Saw yang telah Engkau bangkitkan dari kalangan kaum Akhirin beliau Saw juga.
Ya Allah nubuatan dari seorang wujud yang paling Engkau kasihi (Saw) – yang tak lain adalah berdasarkan khabar gaib dari Engkau juga – telah menjadi sempurna dan mencerahi kami dalam mengenali keberlangsungan Nizam Khilafat yang Engkau tegakkan sepeninggal Hadhrat Imam Mahdi a.s.
Ya Allah, Engkau telah berkenan mengaitkan kami dengan Nizam yang berberkat ini, oleh karena itu janganlah luputkan kami daripadanya dikarenakan berbagai kelemahan kami.
Manusia banyak membuat kesalahan, oleh karena itu kami memohon kepada Engkau, Ya Allah janganlah biarkan qalbu kami satu kali pun menjadi bengkok, ataupun melakukan sesuatu yang Engkau tidak ridhoi. Bahkan, bukan saja teguhkanlah kami di jalan petunjuk-Mu, namun juga lindungilah kami dengan Rahimiyat Engkau, jauhkanlah kami dari segala keburukan, dan senantiasa tingkatkanlah ketaqwaan dan keimanan kami.
Huzur bersabda, hendaknya setiap orang Ahmadi dawam membaca doa ini. Karena khasiat doa ini akan menyadarkan kepada segala kelemahan kita. Akan melindungi kedisiplinan Salat kita, yang pada gilirannya, Salat kita pun akan melindungi diri kita.
Sebagaimana dimaksudkan oleh doa ini, semoga tak pernah sedikitpun terbesit di dalam qalbu kita, berprasangka buruk terhadap Jama’at. Keistiqamahan kita hendaknya teguh sedemikian rupa, yakni kalaupun sampai terjadi sesuatu kelemahan manusiawi [kita menjadi teruji], hendaknya tidak menggoyahkan keimanan dan tidak pula menjadi berpikiran negatif terhadap Nizam Jama’at maupun Khilafat.
Huzur bersabda, Alqur’an penuh dengan berbagai contoh nasib kaum para nabiyullah terdahulu yang gegabah berpendapat: Sekali beriman tidak perlu lagi adanya petunjuk hidayah, yang dimaksudkan kepada kaum Yahudi dan kaum Kristen. Mereka senantiasa berpraduga negatif yang membuat mereka menjadi merasa tinggi hati terhadap aqidah yang ada pada diri mereka, dan menyepelekan pihak lain. Hati mereka menjadi keras.
[..Innaladzina amanu wa amilush-shalihati yahdihim robbuhum bi imanihim, yakni sesungguhnya bagi mereka yang beriman dan beramal shalih, maka atas mereka pun akan ada petunjuk hidayah dari Allah agar tetap berada di jalan keimanan...
Dan untuk memelihara jalan lurus keimanan ini, Allah Taala mengajarkan kaum Muslimin doa robbana laa tudziqulubana..., agar jangan sekali-kali berbengkok hati].
Namun, sedemikian rupanya mereka bersikap arogan sehingga mereka pun akhirnya dicap sebagai golongan yang 'maghdub', yakni yang dimurkai Allah (Yahudi), dan golongan yang 'dholin', yakni, mereka yang telah menjadi sesat (Kristen), sebagaimana tercantum di dalam Surah Al Fatihah.
Jadi, Huzur bersabda, inilah hikmah diwajibkannya membaca Surah Al Fatihah di dalam setiap rakaat Salat, ialah untuk menekankan betapa pentingnya untuk mengambil pelajaran dari mereka, dan juga agar kita senantiasa mencari rahmat dan kasih sayang Allah Swt. Berdoa agar qalbu kita tidak menjadi bengkok. Tidak menjadi seperti kaum Yahudi yang mengkorup hubungan mereka dengan Allah (haququllah). Jika tidak, sangat boleh jadi apa yang telah menimpa pada dua kaum terdahulu tersebut, juga terjadi pada kita [kaum Muslimin] sekarang ini.
Huzur bersabda, sangat disayangkan, sekarang ini, mayoritas mereka yang menyebut dirinya kaum Muslimin tengah melangkah jauh dari jalan Allah. Ini disebabkan oleh pikiran negatif mereka sendiri [khususnya terhadap Hadhrat Imam Mahdi a.s.] dan juga dkarenakan kefanatikan terhadap aqidah yang ada pada diri mereka.
Kaum Ahmadi adalah orang-orang yang beruntung telah menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau'ud a.s., [yang telah mengajari kembali doa-doa di awal Baiat dan mengajari hikmah doa Surah Al Fatihah, ihdina shiratal mustaqim shiratal ladziina an'amta alayhim ghairil maghdubi'alaihim wa laddholliin...; Tersebut di dalam Ahadith, yang dimaksud dengan kaum yang maghdub tersebut adalah kaum Yahudi yang telah menjadi keras hati; menistakan dan menganiaya Al Masih, bahkan hingga nyaris menewaskan beliau. Sehingga beliau a.s. pun mengutuk kaum tersebut.
Sedangkan 'dholin' merujuk kepada kaum Kristen, yang telah tersesat dari jalan keimanan yang lurus; karena menganggap Al Masih sebagai Anak Allah; mengadopsi kepercayaan trinitas, dan menempatkan Al Masih sebagai wujud tunggal untuk keselamatan, yang hingga kini masih tinggal di langit.
Jadi, doa Al Fatihah ini untuk menghindari kaum Muslimin agar jangan sampai bernasib seperti mereka yang telah menjadi 'maghdub' (dimurkai Allah) dan juga bukan mereka yang telah 'dholin', yakni menjadi sesat.
Semoga Allah senantiasa melindungi kita untuk tetap berada di dalam 'shiratal-mustaqim'-Nya. Untuk itulah Allah Swt memerintahkan agar selalu banyak membaca doa supaya qalbu kita jangan sampai menjadi bengkok sedikitpun. Jangan sampai bernasib seperti mereka yang dicap telah menjadi 'maghdub' (dimurkai), ataupun 'dholin' (sesat).
Setiap Ahmadi hendaknya senantiasa ingat akan hal ini. Demikian pun pihak lainnya, sehingga konsep Ummatan Wahidah dapat terwujud sebagaimana mestinya; yakni setiap orang Muslim dapat menerima kebenaran Al-Masih Muhammad Rasulullah Saw; sehingga seluruh ummat Islam benar-benar memahami hakekat manfaat doa yang khas ini.
Huzur bersabda, terdapat di dalam Hadith shahih, Rasulullah Saw pun sering membaca doa ini. Beliau bersabda, qalbu manusia laksana berada di antara dua jari Allah Swt. Yakni, Dia berkenan untuk memberi petunjuk hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan juga membiarkan sesat kepada siapa yang Dia kehendaki.
Huzur mengingatkan, hal ini sama sekali tidak berarti qalbu beliau Saw pun – na'udzubillah mindzalik – bisa bengkok. Tidak begitu, melainkan, qalbu Rasulullah Saw senantiasa dipenuhi dengan dzikir Ilahi. Oleh karena itulah Allah Taala memerintahkan beliau Saw untuk menyatakan: ‘…fatta bi'uni, yuhbibkumullah, wayaghfirlakum dzunubakum, yakni, ...ikutilah aku, maka Allah pun akan mencintaimu; dan akan mengampuni segala dosamu.…’ (3:32).
Sesungguhnya, mengikuti jejak langkah Rasulullah Saw adalah najjat, keselamatan. Beliau bersabda, meskipun mata fisik beliau tertidur, namun mata hati dan pikiran beliau senantiasa berdzikir Ilahi. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda, doa ini dan doa-doa lain yang semacamnya adalah untuk menunjukkan adanya suatu contoh konsep yang afdhol bagi kita semua.
Konsep model yang khas tersebut adalah untuk diikuti oleh seluruh ummah beliau, sehingga manakala Al Masih Muhammadi datang di akhir zaman, mereka pun akan menerimanya.
Seandainya kaum Muslimin seumumnya dapat memahami hal ini. Karena tak ada suatu tragedy yang lebih nestapa selain kehilangan jalan lurus justru setelah menerima kebenaran. Kaum Muslimin hendaknya merenungkan dan menyadari hal ini. Karena keadaan dan perilaku mereka kini menunjukkan bahwa mereka tengah mendapat maghdub, yakni murka Allah Swt. Semoga Allah mengampuni mereka.
Adalah semata-mata rahmat Allah, Dia mengabulkan doa-doa Hadrat Ibrahim, Hadhrat Ismail a.s. dan Rasulullah Saw, sehingga Imam Mahdi pun datang. Namun sungguh malang, kaum Muslimin pada umumnya tidak menerima beliau karena mereka berpendapat tidak memerlukan sesuatu petunjuk (mahdi).
Sedemikian kerasnya pendapat kaum mullah tersebut agar jangan sampai umat mereka menerima kebenaran pendakwaan Imam Mahdi a.s., yang pada faktanya hanyalah dikarenakan mereka khawatir sumber penghasilan mereka akan menjadi tertutup. Hanya dalih saja mereka mengatakan setelah Muhammad Rasulullah Saw tak akan ada lagi seorang nabi atau pun rasul yang akan datang karena bertentangan dengan 'khataman-nabiyin'.
Mereka pun mengatakan, kita sudah memiliki Alqur’an oleh karena itu tidak memerlukan Al Masih maupun Al Mahdi. Namun anehnya mereka tidak memungkiri perlunya keberadaan Khilafat.
Kaum yang telah menjadi jahiliyah itu tak sadar bahwa tanpa adanya Imam Mahdi a.s. tak akan mungkin ada Khilafat.
Padahal, dibangkitkannya Imam Mahdi dari kalangan ummah Rasulullah Saw sendiri justru menunjukkan bukti bahwa Muhammad Rasulullah Saw adalah 'Khataman-Nabiyyin' yang sejati.
[Huzur bersabda, hal ini tiada lain menunjukkan bahwa mereka kaum Mullah tidak memahami Alquran]. Sebab, rahasia ilmu dan tafsir Alqur’an Karim yang mendalam hanya akan dibukakan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih, yang untuk Zaman Akhir sekarang ini, adalah Imam Mahdi a.s., yang bertugas membukakan mutiara-mutiara rahasia Alquran Karim bagi kita sekalian.
[Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, untuk mencapai taraf maksum tersebut seorang hamba Allah yang sejati, pertama-tama hendaknya mensucikan qalbu dan membuang segala kekotoran hati]. Perkara ini sesuai dengan firman-Nya,
لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
yakni, Kitab Suci yang berasal dari Allah Swt ini hanya akan dibukakan rahasia ilmunya hanya kepada hamba-Nya yang disucikan]. Huzur bersabda, untuk zaman sekarang ini, Allah Swt telah mensucikan Hadhrat Imam Mahdi a.s. dengan tangan-Nya sendiri, kemudian mengaruniai beliau dengan berbagai khazanah rahasia ilmu Alquran.
[Oleh karena mereka kaum mullah menentang kebenaran risalah Hadhrat Masih Mau'ud a.s., maka doa apapun yang mereka panjatkan tidaklah akan menjadi makbul sebelum mereka beriman kepada Imam Mahdi a.s. yang sejati. Jika tidak, hati mereka pun akan tetap korup dan bengkok. Sebagaimana dunia kini semakin serba materialistis, maka diperlukan lebih banyak lagi untuk memanjatkan doa ini, sehingga kita pun tidak akan pernah menafi'kan karunia rahmat Ilahi ini, serta senantiasa ber-istiqamah menghadapi segala cobaan.
Membacakan ikhtisar beberapa tulisan Hadhrat Masih Mau'ud a.s.. Huzur mengingatkan bahwa Allah Taala berkenan memberikan rahimiyat-Nya hanya kepada kaum mukminin sejati, yakni wa kana bilmuminina rahima. Rahimiyat-Nya hanya dianugerahkan kepada mukminin sejati].
Innal rahmatan karibun minal muhsinin, karunia rahimiyat-Nya sangat dekat kepada mereka yang muhsinin....
Sabda Rasulullah Saw, Muhsinin adalah mereka yang melakukan segala amal perbuatannya dengan kesadaran bahwa Allah Taala mengawasi mereka.
Dan Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda, Muhsinin adalah mereka yang telah berhasil menjauhkan unsur kepentingan pribadi mereka dari amal shalih yang mereka lakukan. Huzur mendoakan semoga Allah memudahkan kita untuk memelihara amal ibadah kita, memohon kepada-Nya dan membebaskan diri dari sifat egoisme; serta dijauhkan dari kebengkokan hati, sehingga kita pun mampu mensyukuri berbagai karunia yang Allah telah berikan, dan anak keturunan kita pun dikaruniai rahmat dan berkat yang sama.
Selanjutnya Huzur mengumumkan bahwa beliau akan berangkat ke Qadian untuk menghadiri Jalsa Salanah, untuk itu seluruh Jamaat agar mendoakan, semoga Allah memberkati muhibah ini dengan berbagai keberhasilan, dan juga menjaga keselamatan setiap orang Ahmadi.
Banyak juga orang-orang dari seluruh dunia yang akan datang ke Qadian. Pemerintah India telah memberikan kerja sama yang baik dengan cara memudahkan pemberian visa meskipun menghadapi berbagai masalah di dalam negeri.
Semoga Allah Taala tetap memberi ganjaran pahala kepada mereka yang telah berniat akan ikut ber-Jalsah di Qadian akan tetapi terhalang oleh rintangan tertentu. Mereka yang jadi berangkat maupun yang tidak, hendaknya sama-sama berdoa, semoga Allah Swt senantiasa melindungi mereka dari segala rintangan dan kelemahan. Dan semoga pula Allah Taala menjaga keselamatan seluruh mukimin Qadian Darus-Salam.
Huzur bersabda, India adalah sebuah negara yang sangat luas. Banyak kaum Ahmadi dari berbagai Jamaat penjuru negeri tersebut yang tidak mampu bepergian ke Qadian. Oleh karena itu mereka sangat mengharapkan Huzur berkenan datang ke daerah-daerah mereka. Maka Huzur pun akan mengunjungi beberapa kota setelah Jalsah. Semoga Allah Swt memberikan berbagai keberhasilan kepada perjalanan kerja ini sekaligus membawa keberkatan yang tak terbilang, dan membungkam para penentang. Semoga Allah Taala menutupi segala kelemahan kita dan tak akan pernah menyia-nyiakan kita dari rahma-Nya.
Kemudian Huzur mengumumkan akan mengimami Salat jenazah ghaib bada Salat Jumat untuk almarhum Bashir Ahmad Mahar sahib, seorang Darwis Qadian yang meninggal minggu lalu tanggal 13 November. Almarhum adalah termasuk kaum Darwis Awalin yang meskipun mendapat tawaran untuk meninggalkan Qadian, pindah ke Pakistan untuk mengurus tanah warisan, namun beliau memilih untuk tetap menjadi Darwis di Qadian. Almarhum berkepribadian sederhana dan sangat memuliakan Khilafat.
Jenazah kedua adalah Muhammad Ghazanfar Chatta sahib dari Boraywala, Pakistan yang adalah Auditor Maal Jamaat. Pada tanggal 18 November yang lalu, dua orang pengendara motor tak dikenal tiba-tiba menyerang dan mencoba merampas tas yang beliau bawa. Karena beliau berusaha mempertahankannya, mereka pun menembak almarhum hingga akhirnya meninggal dunia. Huzur menengarai kesyahidan beliau terkait demi mempertahankan hak milik Jama’at karena tas yang dirampas mereka tersebut berisi berbagai berkas Jama’at, yang boleh jadi plus uangnya.
Semoga Allah Taala mengampuni almarhum dan mengangkat derajatnya di Surga. Amin !

o o O o o
Please note: Department of Tarbiyyat Majlis Ansarullah USA and Jamaat BaKul takes full responsibility of anything that is not communicated properly in this message.
transltByMMA/LA112408