Monday, June 9, 2014

Tentang Khutbah Ilhamiyah (Khotbah yang Diilhamkan)

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم. بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

 Dalam Khutbah hari ini saya akan menceritakan sebuah Tanda Hadhrat
Masih Mau’ud a.s. yang terjadi pada tanggal yang sama dengan hari ini
11 April, tahun 1900. Tanda ini adalah berupa sebuah Khutbah yang
disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Bahasa Arab. Yang
telah berlaku dengan pertolongan Allah Ta’ala secara khusus kepada
beliau. Sebuah tanda pertolongan Tuhan berupa Ilham di waktu Khutbah,
yang kemudian diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Khutbah Ilhamiyah ini
disaksikan dan didengar oleh 200 orang lebih yang hadir.

Saya-pun menaruh perhatian khusus untuk menyampaikan Khutbah pada hari
ini yang bertepatan dengan hari kejadian peristiwa Tanda yang Agung
ini pada tanggal yang sama yaitu 11 April tahun 1900. Tentu banyak
orang yang sudah tahu tentang nama Khutbah Ilhamiyah ini, dan sudah
diterbitkan berupa sebuah buku, akan tetapi banyak orang belum tahu
tarikh, latar belakang dan kandungan dari Khutbah itu. Bahkan saya
merasa hairan juga, ketika diketahui banyak juga orang Ahmadi yang
tidak tahu apa itu Khutbah Ilhamiyah dan bagaimana terjadinya
peristiwa bersejarah tentang Khutbah Ilhamiyah ini. Setiap orang
Ahmadi harus ingat betul bahwa Tanda ini telah diperlihatkan oleh
Allah Ta’ala sebagai Tanda dukungan Allah Ta’ala terhadap Hadhrat
Masih Mau’ud a.s. yang dapat memperkuat iman kita. Allah Ta’ala telah
menyediakan sarana ampuh untuk menutup mulut para penentang Jemaat.
Dan Dia telah menyediakan dalil bagi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud
a.s. dan sungguh salah satu Tanda dari Tanda-tanda beliau a.s. yang
sangat agung sekali yang telah menutup mulut musuh-musuh besar beliau
a.s.

Sekarang saya akan menceritakan latar belakang dan tarikh serta
kesan-kesan orang-orang Ahmadi yang telah melihat dan mendengar
langsung Khutbah beliau a.s. dan bagaimana tanggapan orang-orang ghair
Ahmadi tentang itu. Begitu juga saya akan menjelaskan ringkasan serta
hakikat Khutbah Ilhamiyah ini serta keagungannya, akan diketahui
setelah membacanya. Tetapi akan saya bacakan juga sedikit gambaran
tentang keagungannya dan martabat tinggi Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Latar belakang Khutbah Ilhamiyah yang telah dimuat di dalam
surat-surat Kabar adalah begini: Bertepatan dengan Hari Arafah di
Mekkah, yakni di waktu pagi sehari sebelum Iedul Adha, Hadhrat Masih
Mau’ud a.s. memberi tahu kepada Hadhrat Maulana Nuruddin r.a. melalui
sepucuk surat: Saya mau menghabiskan waktu hari ini dan sebagian waktu
malam nanti untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala bagi saya sendiri dan
semua sahabat-sahabat saya. Oleh sebab itu tulislah nama kawan-kawan
yang ada di sini beserta alamat tinggal mereka kemudian berikanlah
kepada saya, agar saya ingat mereka di waktu memanjatkan do’a.

Sesuai dengan perintah Hudhur a.s. sebuah daftar nama-nama dibuat oleh
Maulana Nuruddin Sahib kemudian diserahkan kepada Hudhur a.s. Setelah
itu datang lagi kawan-kawan dari luar dengan keinginan keras untuk
berjumpa dan memohon do’a kepada Hudhur a.s. dan mulai menulis
nama-nama mereka diatas secarik kertas kemudian mengirimkannya kepada
Hudhur a.s. Dari dalam diterima pesan dari beliau, supaya tidak
mengirimkan lagi nama-nama siapapun.

Di waktu Maghrib dan Isya, Hudhur Aqdas a.s. datang untuk solat.
Selesai solat Hudhur Aqdas a.a. bersabda: Karena saya telah berjanji
kepada Allah Ta’ala bahwa hari ini dan sebagian dari waktu malam saya
akan berdo’a, maka sekarang saya akan pergi supaya tidak terjadi
pelanggaran janji dengan Allah Ta’ala. Hudhur Aqdas a.s. pergi
kemudian sibuk di dalam berdo’a.

Pagi hari berikutnya, hari Ied Maulwi Abdul Karim Sahib r.a. pergi
kedalam berjumpa dengan Hudhur Aqdas a.s. memohon secara khusus agar
Hudhur Aqdas a.s. menyampaikan sebuah pidato. Hudhur Aqdas a.s.
bersabda: Tuhan telah menyuruh ! Lalu bersabda lagi: Semalam saya
menerima Ilham: کچھ عربی میں بولو ‘kuch Arabi me bolo!’ ‘Bercakap-lah
beberapa kalimat di dalam Bahasa Arab di hadapan para hadirin.’

Ketika Hadhrat Aqdas a.s. sudah siap untuk menyampaikan Khutbah di
dalam Bahasa Arab, beliau menyuruh Maulana Nurud Din Sahib dan Maulwi
Abdul Karim Sahib agar duduk berdekatan dengan beliau untuk menulis
Khutbah yang akan beliau a.s. sampaikan itu. Tatkala kedua beliau itu
sudah siap, maka Hudhur Aqdas a.s. mulai Khutbah dengan mengucapkan:
یا عباد اللہ Yakni; Hai hamba-hamba Allah! Di waktu Khutbah Hudhur
Aqdas bersabda kepada kedua orang Maulana itu: “Tulislah sekarang,
semua perkataan ini nanti mungkin akan hilang. Tulislah baik-baik,
jika ada yang tidak difahami tanyakanlah langsung.”

Ketika Hadhrat Aqdas a.s. duduk setelah menyampaikan Khutbah, maka
atas permintaan semua hadhirin Hadhrat Maulana Abdul Karim Sahib r.a.
berdiri untuk memperdengarkan terjemah Khutbah tersebut ke dalam
Bahasa Urdu. Sebelum Maulana Sahib memulai membacakan terjemah Khutbah
itu Hudhur Aqdas a.s. bersabda; ”Khutbah ini dinyatakan sebagai Tanda
terkabulnya do’a-do’a yang saya panjatkan kemarin siang hari
bertepatan dengan Hari Arafat dan malam Hari Iedul Adha. Jika saya
menyampaikan Khutbah di dalam Bahasa Arab secara mendadak, maka semua
do’a saya dianggap sudah terkabul. Alhamdulillah! Sesuai dengan janji
Allah Ta’ala do’a-do’a saya itu sudah terkabul.”

Baru saja terjemah Khutbah itu dibacakan beberapa kalimah oleh Hadhrat
Maulana Abdul Karim Sahib r.a. tiba-tiba dengan penuh ghairah Hadhrat
Masih Mau’ud a.s. bersujud. Maka semua yang hadir-pun turut bersujud
bersama-sama Hudhur Aqdas a.s. Setelah bangkit dari sujud, Hadhrat
Masih Mau’ud a.s. bersabda: Baru saja saya melihat tulisan berwarna
merah di dalam Bahasa Arab berbunyi: مبارک (Mubarak!) Itulah Tanda
pengabulan Khutbah itu!”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis di dalam Kitab beliau, Nuzulul Masih
sebagai berikut: ”Di waktu pagi Hari Iedul Adha saya menerima Ilham
ini کچھ عربی میں بولو ‘kuch Arabi me bolo!’ yakni bercakaplah beberapa
kalimah di dalam Bahasa Arab! Maka saya beritahu Ilham ini kepada
banyak kawan-kawan. Sebelum itu saya tidak pernah berpidato di dalam
Bahasa Arab. Akan tetapi pada hari itu saya berdiri untuk pertama kali
menyampaikan Khutbah di dalam bahasa Arab. Maka Allah Ta’ala telah
membuat sebuah pidato yang sangat jelas dan fasih sekali di dalam
Bahasa Arab yang Dia salurkan melalui lidah saya dan sangat berbobot
dengan makna yang sangat indah sekali. Dan Khutbah itu sudah dibukukan
dan diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Dan Khutbah ini terdiri dari banyak
sekali bagiannya. Yang disampaikan sambil berdiri dalam satu waktu
secara mendadak. Dan Allah Ta’ala telah memberi nama ‘Tanda’ di dalam
Ilham-Nya kepada saya. Sebab seluruh pidato secara mendadak itu telah
berlaku semata-mata dibawah pengaruh kekuatan-Nya. Sekali-kali saya
tidak percaya dengan yakin bahwa seorang ilmuwan, orator Bahasa Arab,
dapat berdiri menyampaikan pidato secara mendadak yang fasih dan
berbobot seperti itu. Pidato atau Khutbah ini telah disaksikan dan
didengar oleh tidak kurang dari 150 orang hadirin. [2]

Di dalam Buku Haqiqatul Wahi beliau menulis agak rinci sebagai
berikut: “Pada 11 April, 1900, pada hari Ied-ul-Adha, pada waktu subuh
saya menerima Ilham, کچھ عربی میں بولو ‘kuch Arabi me bolo!’ yakni,
Hari ini bercakaplah sedikit di dalam Bahasa Arab. Engkau diberi
kekuatan.” Kemudian diterima Ilham ini juga کلام افصحت من لدن رب کریم
‘kalamun ufsihat mil ladun Rabbin Kariim’ yakni, kalam (pidato) ini,
telah diberi kefasihan oleh Rabb Karim. Maka pada waktu itu juga Ilham
ini diberitahukan kepada Maulavi ‘Abdul Karim Sahib, Maulavi Hakim
Nuruddin Sahib, Shaikh Rahmatullah Sahib, Mufti Muhammad Sadiq Sahib,
Maulavi Muhammad ‘Ali Sahib M.A., Master ‘Abdul Rahman Sahib, Master
Sher ‘Ali Sahib B.A., Hafiz ‘Abdul ‘Ali, dan kepada banyak lagi
kawan-kawan lainnya. Maka setelah Salat Ied, saya berdiri untuk
menyampaikan Khutbah Ied di dalam Bahasa Arab. Dan Allah Ta’ala tahu
bahwa saya telah diberi kekuatan Ghaib oleh-Nya. Dan keluarlah dari
mulut saya sebuah pidato secara mendadak di dalam Bahasa Arab yang
sangat fasih dan berbobot, betul-betul diluar kemampuan saya sendiri.

Saya tidak dapat membayangkan bahwa pidato panjang yang terdiri dari
berbagai jenis bagian dengan kefasihan dan bobot luar biasa, tanpa
Ilham khas Allah Ta’ala seorangpun di dunia ini tidak akan dapat
menyampaikannya, secara mendadak tanpa persiapan sebelumnya berupa
tulisan sebuah naskah. Pidato di dalam Bahasa Arab itu yang telah
diberi nama Khutbah Ilhamiyah, telah diperdengarkan di hadapan hadirin
hampir mencapai 200 orang jumlahnya. Subhanallah! Seolah-olah pada
waktu itu sebuah mata air dari ‘alam ghaib sedang memancar.

Saya tidak tahu apakah pada waktu itu mulut saya berbicara atau
Malaikat sedang berbicara melalui lidah saya. Sebab saya tahu pasti
bahwa di dalam kalam itu sedikitpun tidak ada usaha saya. Dengan
sendirinya kalimat demi kalimat terus-menerus keluar dari mulut saya.
Dan setiap kalimat merupakan sebuah Tanda Ilahi bagi saya. Maka semua
kalimat-kalimat itu sudah terwujud yang diberi nama Khutbah Ilhamiyah.
Dengan membaca buku ini akan diketahui, apakah itu kekuatan manusia,
menyampaikan pidato yang begitu panjang secara mendadak tanpa
persiapan sebelumnya di dalam Bahasa Arab. Ini semata-mata mu’jizat
sebuah ilmu yang telah diperlihatkan oleh Allah Ta’ala dan tidak akan
ada seorangpun yang dapat menandinginya. Bahkan tantangan ini masih
tetap berlaku sampai sekarang. [3]

Di dalam Tarikh Ahmadiyya terdapat beberapa macam tulisan menanggapi
Khutbah tersebut, sebab Khutbah itu sebagai Tanda berupa Ilmu yang
sangat dahsyat, oleh sebab itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menganjurkan
kepada para Khuddam beliau untuk menghapalkannya. Sesuai dengan
perintah beliau itu, Sufi Ghulam Muhammad Sahib, Hadhrat Mir Muhammad
Ismail Sahib, Mufti Muhammad Sadiq Sahib, Maulwi Muhammad Ali Sahib
dan beberapa orang lainnya lagi telah menghafalkannya diluar kepala.
Bahkan Maulwi Muhammad Ali Sahib telah memperdengarkannya secara lisan
kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di bagian atas Masjid Mubarak antara
waktu Maghrib dan Isya.

Hadhrat Maulwi Abdul Karim Sahib yang memiliki kecintaan dan kemampuan
menguasai Bahasa Arab secara luar biasa, telah kecanduan oleh Khutbah
itu sehingga sering sekali beliau memperdengarkannya kepada orang
ramai. Beliau sangat terpukau oleh banyak kalimat yang sangat
menakjubkan. Dapat dianggap sebagai fenomena alami bagi Maulana Abdul
Karim Sahib, seorang pakar dan pencinta Bahasa Arab, yang telah
membuat beliau tergila-gila oleh daya tarik kata-kata Mu’jizat Khutbah
Ilhamiyyah itu.

Tetapi, telah terjadi hal yang sangat menakjubkan bahwa anak-anak juga
sangat tertarik sekali mendengar pidato itu. Hadhrat Khalifatul Masih
II r.a. bersabda: ”Hari itu juga, di waktu pidato itu diucapkan,
sebelum matahari terbenam, anak-anak kecil dibawah umur 12 tahun juga
mengulang-ulang beberapa kalimat Khutbah Ilhamiyah itu di
lorong-lorong Qadian. Hal itu sungguh merupakan perkara yang luar
biasa.”

Khutbah itu telah dicetak pada bulan Agustus 1901. Hadhrat Masih
Mau’ud a.s. telah mengusahakan seorang Katib (juru tulis) untuk
menulisnya dan beliau sendiri menerjemahkannya kedalam Bahasa Urdu dan
Farsi dan memberi ‘irab-nya (baris-barisnya) juga beliau sendiri yang
membuatnya. Khutbah itu terdiri dari 38 halaman yang berupa sebuah
buku yang merupakan bagian pertama dan bagian selanjutnya telah
ditulis kemudian oleh Hadhrat Aqdas a.s. sendiri. Seluruh bagian dari
buku itu diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Ketika buku itu telah dicetak,
para Cendekiawan besar Bahasa Arab sangat heran dan kagum membaca
kefasihan tanpa tanding dan kandungan arti serta ilmu pengetahuan yang
sangat dalam. Sesungguhnya itulah Tanda Masih Muhammadi yang tidak ada
tandingannya selain Kitab Suci Al Qur’an.

Terdapat dua buah mimpi di dalam sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
berkenaan dengan Khutbah ini. Pada tanggal 19 April tahun 1900 Hadhrat
Masih Mau’ud a.s. telah menulis tentang mimpi Miyan Abdullah Sannouri.
Di dalam mimpi itu Miyan Abdullah Sannouri berkata bahwa Munshi Ghulam
Qadir marhum dari Sannour sudah datang di sini (Qadian). Miyan
Abdullah Sannouri bertanya tentang keadaan sebuah ijtima (pertemuan).
Katanya, terdengar suara gemuruh di atas langit. Mimpi ini serupa
dengan mimpi Sayyed Amir ‘Ali Shah Sahib. Ketika Khutbah Ied sedang
dibacakan beliau telah melihat Hadhrat Muhammad saw, Hadhrat Musa a.s.
dan Hadhrat Isa a.s. dan Hadhrat Hidir juga hadir mendengarkan Khutbah
itu. Pemandangan itu beliau lihat dalam keadaan kasyaf ketika sedang
mendengarkan Khutbah itu. (Tadhkirah, hal. 256-257 cetakan 2009)

Kesan-kesan para Sahabah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan
Khutbah Ilhamiyyah itu sebagai berikut:

Hafiz Abdul Ali Saheb mengatakan, saya hadir di waktu Khutbah
Ilhamiyya sedang disampaikan. Pada waktu itu suara Hudhur a.s. sudah
berobah. Seorang dari Distrik Sialkot Sayyid Mulhim, seorang Ahmadi
yang sering menerima Ilham, duduk dekat saya. Beliau berkata: Malaikat
juga hadir untuk mendengarkan Khutbah ini.

Hadhrat Mirza Afzal Baig Saheb mengatakan, Hadhrat Aqdas a.s. sambil
berdiri menyampaikan Khutbah di Masjid Aqsa dalam Bahasa Arab. Hudhur
mengulangi setiap perkataan tiga kali dan Hadhrat Maulvi Nuruddin
Sahib dan Maulwi Abdul Karim Sahib keduanya menulis Khutbah itu dan
kadang-kadang menanyakan kepada Hudhur Aqdas, apakah kalimat itu
ditulis dengan س atau ث dan ع atau الف. Kemudian Hudhur Aqdas
membetulkannya. Kemudian setelah Khutbah selesai Hudhur Aqdas a.s.
bersabda kepada Maulwi Abdul Karim Sahib: ” Terjemahkanlah Khutbah ini
kemudian bacakan kepada hadirin.” Sesuai perintah itu Maulwi Abdul
Karim Sahib menterjemahkannya (kedalam Bahasa Urdu) kemudian
membacakannya. Kemudian Hadhrat Aqdas a.s. melakukan sujud syukur dan
diikuti oleh semua hadirin.

Hadhrat Maulwi Sher Ali Sahib melaporkan, “Hadhrat Aqdas menyampaikan
Khutbah Ied yaitu Khutbah Ilhamiyah. Sehari sebelum Ied di waktu pagi
beliau mengirim pesan kepada Maulwi Nuruddin Sahib untuk membuatkan
daftar nama-nama semua orang yang ada di sini agar beliau mendo’akan
mereka. Sesuai pesan Hadhrat Aqdas a.s. daftar nama-nama itu dibuat,
kemudian dikirimkan kepada beliau. Dengan pintu rumah tertutup Hadhrat
Aqdas a.s. mulai memanjatkan do’a. Beberapa orang yang datang
belakangan ditulis nama-nama mereka kemudian dikirim melalui pintu
tertutup.

Pada hari Iedul Adha Hadhrat Masih Mau’ud a.s. keluar dan ketika baru
sampai di atas anak-tangga Masjid Mubarak beliau bersabda: ”Semalam
saya menerima Ilham dengan perintah agar saya menyampaikan Khutbah
beberapa kalimat di dalam Bahasa Arab.”

Karena itu, beliau mengirim pesan kepada Maulwi Nuruddin Sahib dan
Maulwi Abdul Karim Sahib untuk datang sambil membawa kertas, kalam
(pena) dan tinta. Sebab telah diterima Ilham untuk menyampaikan
Khutbah beberapa Kalimat di dalam Bahasa Arab. Salat Ied dipimpin oleh
Maulvi Abdul Karim Sahib. Dan Khutbah disampaikan oleh Hadhrat Masih
Mau’ud a.s. dalam Bahasa Urdu. Setelah Khutbah permulaan di dalam
Bahasa Urdu, kemudian beliau mulailah Khutbah di dalam Bahasa Arab.

Pada waktu itu keadaan beliau sangat khas sekali. Mata terpejam,
setiap permulaan kalimat beliau ucapkan dengan suara keras. Kemudian
lambat laun suara beliau semakin lembut. Di hadapan sebelah kanan
beliau kedua Maulvi Sahib sedang menulis apa yang beliau ucapkan.
Apabila salah seorang tidak jelas mendengar ucapan beliau, bertanya
kepada beliau, dan beliau-pun menjelaskannya. Dan beliau bersabda:
Jika ada kalimat yang tidak terdengar dengan jelas harus ditanyakan
sekarang juga, sebab mungkin saja kemudian sayapun tidak ingat lagi.
Dan bersabda: “Selama kalimat-kalimat terus diilhamkan dari atas, saya
akan terus bercakap, dan apabila sudah berhenti, maka selesailah
sudah.”

Kemudian beliau mengusahakan secara khusus agar Khutbah itu ditulis
berupa sebuah buku dan beliau sendiri telah menterjemahkan-nya kedalam
Bahasa Urdu dan Farsi. Dan beliau telah menganjurkan juga agar
orang-orang Jemaat menghafalkannya, seperti menghafalkan Al Qur’anul
Majid. Maka demi melaksanakan perintah itu Hadhrat Mufti Muhammad
Sadiq and Maulwi Muhammad Ali Sahib telah menghafalkannya, kemudian
memperdengarkannya juga kepada Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud a.s. di
Masjid Mubarak. Setelah itu saudara saya Hafiz Abdul Hayy bertanya
tentang itu kepada Hadhrat Maulvi Nuruddin Sahib. Maka Maulvi Sahib
dalam menjawabnya berkata: ”Kami tahu bahwa kejadian itu di luar
kekuatan Hadhrat Aqdas a.s.”

Maksudnya, itu semata-mata Kalam Allah Ta’ala bukan Kalam Hadhrat
Aqdas a.s. sendiri.

Hadhrat Mian Ameer ud Din menceritakan bahwa, setelah membacakan
Khutbah Ilhamiyyah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. keluar, di jalan beliau
bersabda: ”Ketika saya sedang mengucapkan sebuah kalimat, saya tidak
tahu kalimat berikutnya apa yang akan diucapkan. Tulisan
kalimat-kalimat itu terpampang dimuka saya, dan sayapun membacanya.
Hudhur Aqdas a.s. membacanya perlahan-lahan sekali dan tidak
terburu-buru.

Hadhrat Maulawi Abdullah Sahib Batalwi menulis katanya, Sayyid Abdul
Hayyi Sahib dari Arabia tinggal di Qadian dengan tujuan untuk
mengadakan penyelidikan dalam waktu yang cukup lama, dan kemudian
beliau Bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Beliau menceritakan
kepada saya bagaimana kisah beliau telah Bai’at. Beliau berkata,
‘Setelah saya membaca Buku-buku karya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. hati
saya langsung mengakui dengan sangat yakin bahwa tidak akan ada orang
yang mampu menulis buku-buku seperti itu tanpa mendapat pertolongan
dari Allah Ta’ala. Namun saya tidak bisa percaya Buku-buku itu hasil
tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sekalipun Hadhrat Maulawi Nurud Din
Sahib dan beberapa Ulama besar lainnya dalam Jemaat meyakinkan saya
bahkan memberi kesaksian. Namun beliau-beliau itu tidak dapat
menjauhkan keraguan saya.

Saya mulai mengumpulkan bukti-bukti apakah betul ini tulisan-tulisan
Hadhrat Masih Mau’ud sendiri tanpa bantuan siapapun dari luar? Maka
saya mencoba menulis beberapa pucuk surat kepada Hadhrat Aqdas Masih
Mau’ud a.s. di dalam Bahasa Arab. Dan jawaban surat-surat saya itu
diterima dari beliau di dalam Bahasa Arab. Saya perhatikan betul bunyi
surat-surat beliau itu, kemudian saya perbandingkan dengan tulisan di
dalam buku-buku beliau dalam Bahasa Arab, maka nampaklah kedua kalam
itu serupa keadaannya, tidak ada perbedaan. Namun demikian, sedikit
banyak nampak ada perbedaan kepada saya. Jawabannya adalah, tulisan
(kalam) biasa Hadhrat Aqdas yang terdapat dalam jawaban surat-surat,
di dalamnya tidak mempunyai kesan mu’jizat atau dukungan Ilahi. Oleh
karena buku-buku yang ditulis di dalam Bahasa Arab didukung sepenuhnya
oleh perintah Ilahi secara khusus, maka bentuknya sangat berbeda dan
unik, dan memang harus demikian keadaannya. Jika tidak, hasil
kemampuan biasa dengan hasil yang didukungan oleh perintah Allah
Ta’ala tidak akan nampak ada perbedaan.

Walhasil, saya tetap tinggal di Qadian untuk menghasilkan penyelidikan
demi mendapatkan bukti yang meyakinkan tentang dukungan Ilahi yang
dimaksud. Maka tibalah waktu turunnya Khutbah Ilhamiyyah, dan saya
menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengarnya dengan telinga
saya sendiri, bagaimana jelas, berbobot dan luar biasa fasihnya
Khutbah Ilhamiyya itu sedang diucapkan di hadapan semua hadirin tanpa
pertolongan siapapun. Oleh sebab itu setelah mendengar langsung
Khutbah Ilhamiyyah ini dengan lapang dada dan penuh keyakinan saya
segera menyatakan Bai’at.’”

Seorang anggota Jemaat, Haji Abdul Karim Sahib pergi ke Mesir untuk
bekerja sebagai tentara. Mungkin peristiwa itu sebelum tahun 1940. Di
sana beliau mulai bertabligh, dan seorang kawan bernama Ali Hasan
Sahib Bai’at masuk Jemaat. Haji Abdul Karim Sahib ditemani olehnya
menemui teman-teman orang Mesir dan bertabligh kepada mereka. Salah
seorang diantara mereka seorang clerk, pegawai Departemen Telegraph.
Mereka bertukar pikiran beberapa hari lamanya tentang berbagai
masalah. Ia telah merasa yakin atas penjelasan-penjelasan itu namun
tidak bersedia menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi Ummati.
Haji Sahib memberinya buku Khutbah Ilhamiyah untuk dibaca dan tidak
menjumpainya selama beberapa hari lamanya.

Pada suatu hari Haji Sahib menerima sepucuk surat, mengundang beliau
untuk makan bersama. Ketika berjumpa dengannya, Haji Sahib diminta
untuk menuliskan surat Bai’at untuknya. Ketika ditanya apakah sudah
memahami tentang bahasan Khatamun Nabiyyin? Teman itu berkata; Saya
telah mengundang makan malam seorang profesor besar Universitas Al
Azhar (universitas tua dan terkenal di Kairo, Mesir) dan saya
memberitahukan kepadanya, ‘Beberapa orang India telah bertabligh
kepada saya mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. sudah wafat dan Isa a.s.
yang akan datang orangnya dari umat Nabi Muhammad saw yang akan datang
sebagai Masih dan Mahdi, dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani telah
mendawakan sebagai Isa yang dijanjikan akan datang itu. Saya setuju
dengan semua argumentasi ini, tetapi mereka mengatakan bahwa Mirza
Sahib adalah seorang Nabi Ummati dan inilah perkara yang saya tidak
bersedia menerimanya. Oleh karena anda sebagai seorang Ulama besar,
beritahulah saya apakah pendirian saya ini betul atau tidak.’

Profesor Al Azhar itu dalam jawabannya berkata: ‘Saya sudah membaca
beberapa buah Buku Mirza Sahib dan sudah bertemu juga dengan beberapa
Ahmadi dan telah bertukar pikiran dengan mereka. Jika seandainya
seribu orang Nabi datang seperti da’wa kenabian Mirza Sahib, kedudukan
Khatamun Nabiyyin tetap tidak terpengaruh. (Profesor itu sudah
mengakui kebenaran da’wa Hadhrat Aqdas a.s.)

Teman itu mengatakan, ‘Saya akan masuk Jama’at Ahmadiyya atas dasar
pendirian ini dan Anda sebagai Ulama akan bertanggung jawab terhadap
pendapat ini di Hari Akhirat nanti.’

Ulama Al Azhar itu berkata: ‘Jawaban saya hanya untuk di sini saja,
jika anda bertanya kepada saya di hadapan orang ramai (umum) maka saya
akan berkata bahwa Nabi Ummati tidak bisa datang. Jika sungguh-sungguh
engkau mau masuk Jemaat Ahmadiyya dibawah tanggung jawab saya,
silahkan, masuklah engkau. Sejauh mana hubungannya dengan diri pribadi
saya, ada beberapa penghalang di hadapan saya. Halangan terbesar jika
saya masuk Ahmadiyya, saya akan dipecat dari pekerjaan saya sebagai
Professor University Al-Azhar.’

(Pengaruh dunia sudah menguasai dirinya). Segera setelah mendengar
penjelasan dari Ulama Al Azhar itu ia memutuskan untuk masuk Jemaat
Ahmadiyya dan mulailah menela’ah Buku Khutbah Ilhamiyah dan ia tidak
tidur sebelum membaca buku itu sampai tamat.

‘Pada suatu malam saya (yaitu Ali Hasan, orang Mesir tadi) dalam mimpi
melihat Hadhrat Ahmad, Masih Mau’ud a.s. sedang pergi ke suatu tempat
beserta sebuah Jemaat yang besar. Saya bertanya: “Hudhur, siapakah
orang-orang ramai ini dan Hudhur sedang membawa mereka kemana?” Beliau
a.s. bersabda: “Ini semua para wali Allah swt dari umat Muhammad saw
yang lahir jauh sebelum saya, dan saya sedang membawa mereka untuk
bertemu dengan Hadhrat Rasulullah saw. Saya adalah Khatamul Auliya,
setelah saya tidak ada seorang walipun kecuali dari anggota Jemaat
saya. Tidak ada lagi Nabi setelah Hadhrat Muhammad Rasulullah saw,
kecuali seorang Nabi Ummati seperti saya.”

Setelah saya bangun tidur, maka masalah Khatamun Nubuwwah sudah
terpecahkan semuanya dan saya sangat gembira.’”

Haji Abdul Karim berkata, “Pada waktu itu juga saya tulis surat Bai’at
yang dimintanya itu, kemudian saya kirimkan ke Qadian.”

Seorang tokoh besar, Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi, Ulama terkenal
dan sahabat kental Hadhrat Sayyid Waliullah Shah Sahib (seorang
keturunan Arab Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as). Beliau menjalin
hubungan dengan Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi berkenaan dengan
literatur dan ilmu pengetahuan agama dan Bahasa Arab. Pertama kali
bertemu dengan beliau pada tahun 1916. Suatu ketika Sheikh Abdul Qadir
Al Maghribi Sahib berkata kepada Hadhrat Sayyid Waliullah Shah Sahib:
“Mari kita berfoto berdua dan kita jalin hubungan erat sambil
meletakkan tangan kita di atas Al-Qur’an.”

Berkat persahabatan inilah, ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a.
mengunjungi Damaskus (Suriah), Allama Al-Magribi Sahib datang berjumpa
dengan beliau dan mengajukan banyak sekali pertanyaan kepada beliau
r.a. dan ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. menjawab
pertanyaan-pertanyan-nya itu, karena merasa dirinya Allama besar dan
keras kepala, berkata: “Kami orang Arab dan sangat tahu Bahasa Arab,
kami sangat faham Al Qur’anul Karim. Siapa yang dapat memahami AL
Qur’an lebih baik dari kami.”

Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. bersabda: “Kalian, orang-orang Arab
juga seperti orang lain memerlukan Kamus. Allah Ta’ala telah mengajar
Al Qur’an dan memberi pemahamannya kepada kami. Bahasa kami, sekalipun
kami bercakap-cakap dalam Bahasa Urdu dan kami tidak mendapat banyak
kesempatan untuk bercakap-cakap dalam Bahasa Arab, namun kami lebih
fasih dan lebih berbobot dari pada kalian…, dan sebagainya dan
sebagainya.”

Dalam Bahasa Arab yang sangat fasih, Hudhur II r.a. berdiskusi dengan
Allama Abdul Qadir Al-Maghribi itu dengan ghairah dan semangat sekali.
Seorang Sayyid Sahib yang sedang duduk berdekatan dengan Hudhur r.a.
sambil memandang muka Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib berkata:
“Memang betul Bahasa orang-orang ini lebih fasih dari kita.” Mendengar
perkataannya itu, maka Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib bersikap
lemah lembut dan mulailah berdiskusi dengan penuh hormat dan adab
sekali.

Di waktu berbincang-bincang itu Abdul Qadir Al Maghribi Sahib juga
berkata; Di dalam Buku-buku Hadhrat Sahib (Masih Mau’ud a.s) juga
terdapat kesalahan-kesalahan. Maka atas perkataannya itu Hadhrat
Khalifatul Masih II r.a, menjawab: ‘Jika anda mempunyai kekuatan
tulislah semua kesalahan-kesalahannya itu atau jawablah semua
tantangan Buku-buku beliau itu kemudian sebarkanlah kepada masyarakat.
Namun ingatlah! Sekali-kali anda tidak akan dapat melakukannya. Jika
anda mulai mengangkat pena untuk menjawabnya, maka semua kekuatan anda
akan dirampas oleh Allah Ta’ala. Cobalah, kemudian anda tengok apa
hasilnya!’ Mendengar tantangan itu mulailah ia memohon agar jangan
menyebarkan amanat Ahmadiyya di Arab, Syria dan Mesir, sebab akan
menimbulkan banyak perselisihan paham sedangkan di sekitar kawasan
Negara-negara ini sudah banyak timbul perselisihan faham, orang-orang
Wahabi telah menimbulkan banyak sekali pertengkaran dan masalah yang
menyusahkan kami. Bertablighlah tuan di Negara-negara Eropah, America
dan Africa dan di Negara-negara Kristen lainnya dan kirimlah kesana
para Muballigh. Sambil merapatkan kedua belah telapak tangan dan
menciumnya, berulang kali memohon dengan hormat dan karena Allah,
janganlah sekali-kali menablighkan akidah-akidah Hadhrat Masih Mau’ud
di kawasan Negara-negara Arab ini, dan jangan pula mengirim Muballigh.

Kemudian dia berkata: “Kami sudah tahu beliau itu (yaitu Hadhrat Masih
Mau’ud as) orang baik dan mempunyai ghairah tinggi untuk mengkhidmati
Islam, akan tetapi kami tidak dapat menerima da’wa beliau sebagai Nabi
dan Rasul. Himpunlah manusia hanya kepada Kalimah Toyyibah, "لا إله
إلا الله" la ilaha illallah Muhammad Rasulullah.”

Walhasil semua pertanyaan dan perkara-perkara yang telah diajukannya
telah dijawab oleh Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dengan cara yang
sangat terhormat dan berwibawa. Beliau bersabda, ‘jika semua program
ini kami yang membuatnya, tentu sudah kami tinggalkan. Akan tetapi
semua itu Program Allah Ta’ala, sedikit pun tidak ada campur tangan
kami atau campur tangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Itu semua perintah
Allah Ta’ala, kami akan menyebarkan amanat ini sampai dimanapun juga,
dan pasti kami akan menyebarkannya.”

Masih berkaitan dengan kisah Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib,
Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. telah mengirim Maulana Jalalud Din Shams
Sahib ke Syria (sebagai Muballigh jemaat).

Dalam menceritakan kisah di zaman itu, Hadhrat Sayyid Zainul Abideen
Waliullah Shah Sahib menulis, “Pada suatu hari saya dan Maulana
Jalaluddin Shams Sahib sedang bercakap-cakap tentang Jemaat Ahmadiyya
bersama beberapa orang teman. Saat itu Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi
Sahib juga datang dan duduk mendengarkan percakapan kami. Dalam
percakapan itu Sheikh Abdul Qadir Al-Maghribi menceritakan kisah
pertemuan beliau dengan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dan
mengulangi saran dan permohonan yang diajukan kepada Hadhrat
Khalifatul Masih II r.a. dengan nada yang sangat merendahkan diri,
‘Jangan melakukan tabligh di sini,’ dan sambil senda gurau berkata:
‘Ilham-ilham Bahasa Arab pun tidak betul.’ Yakni Ilham-ilham Hadhrat
Masih Mau’ud di dalam Bahasa Arab tidak betul susunan kata-katanya.

Lalu, saya berikan kepadanya Buku Khutbah Ilhamiyah untuk dibaca.
Kemudian diminta agar dia menunjukkan di mana kesalahannya. Mulailah
dia membacanya dengan suara keras, kemudian tentang satu atau dua
kalimat berkata, ‘Ini bukan lafadz Bahasa Arab.’ Kemudian Maulana
Jalaluddin Syam Sahib mengambil dari lemari, dan membuka Kamus Bahasa
Arab, "تاج العروس" Taajul ‘Uruus yang ada pada waktu itu. Kemudian
lafadz itu dikeluarkan dan ditunjukkan kepada Sheikh Abdul Qadir Al
Maghribi itu. Semua yang hadir merasa heran dan saya mengambil
kesempatan baik itu dan berkata kepada Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi
itu: ‘Anda dikenal sebagai Adiib dan ‘Aliim (Sastrawan dan Ulama
Besar) Bahasa Arab, namun anda tidak tahu Bahasa Arab lebih dari murid
saya.’

Saat itu Maulana Jalaluddin Shams Sahib, sedang belajar Bahasa Inggris
dari saya, sebab itulah saya sebut ia murid saya. Sheikh Abdul Qadir
Al Maghribi itu menjadi sangat marah kemudian bangkit dari tempat
duduk dan pergi sambil berkata; ‘Besok akan saya lihat apa yang akan
terjadi kepada kalian disini.’ Teman-teman yang sedang duduk di waktu
itu sangat terkesan oleh perkataan saya.

Hari berikutnya pagi-pagi sekali Shams Sahib berkata kepada saya,
‘Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. berpesan agar jangan membuat hati Sheikh
Abdul Qadir Al-Maghribi tersinggung, harus dijalin terus hubungan baik
dengan beliau.’

Tetapi, saya telah membuatnya marah. Saya katakan, ‘Jangan risau nanti
saya perbaiki lagi hubungan dengan beliau.’

Pagi-pagi kami berdua pergi ke rumah Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi
Sahib. Ketika kami mengetuk pintu, maka Sheikh Abdul Qadir Sahib-pun
keluar. Begitu berjumpa, langsung memeluk dan mencium saya dan
berkata: ‘Saya minta maaf, saya sendiri berniat untuk datang ke rumah
anda. Mari masuk dan minumlah teh! Saya mau memberi tahu bagaimana
saya menghabiskan waktu tadi malam.’

Kami pun masuk kedalam rumah dan beliau menunjukkan risalah Al-Haqaiq
‘anil Ahmadiyyah (Hakekat-hakekat mengenai Ahmadiyah, risalah
berbahasa Arab ini hasil karya Hadhrat Shah Walullah Sahib) dan
berkata, ‘Risalah ini ada di tangan saya dan saya bertekad untuk
membantah Risalah ini. Saya kumpulkan semua Buku-buku Hadis yang ada
pada saya dan disimpan di atas meja. Setelah salat Isya, mulailah saya
menulis untuk membuat bantahan terhadap Risalah ini. Saya baca
Risalah, lalu saya mulai menyusun untuk membantah, namun hasilnya saya
robek-robek, sebab saya merasa kurang sesuai dan terlalu
berlebih-lebihan. Lalu saya mencoba menyusun lagi namun tidak
berhasil, akhirnya saya batalkan dan saya robek-robek lagi kertas itu,
demikianlah berjalan sampai larut malam. Istri saya berkata: “Sedang
apa ini? Mengapa tidak mau tidur?”

Akhirnya terdengar suara azan subuh, sedikitpun saya tidak dapat
menulis sesuatu. Apapun yang saya tulis selalu gagal dan merasa salah.

Setelah itu, ia berkata kepada saya (Shah Sahib): ‘Saya berjanji dari
sekarang anda tidak akan mendengar lagi perkataan saya yang menentang
Jemaat anda. Semua pendapat anda betul-betul Islami dan bertablighlah
anda dengan bebas di sini. Siapapun yang bertanya kepada saya tentang
Jemaat anda akan saya jawab dengan sebaik-baiknya untuk mendukung
pendirian anda semua. Akan tetapi, saya tidak akan masuk kedalam
Jemaat anda.’ Akhirnya beliau-pun selalu memuji Jemaat Ahmadiyya.”

Sekarang saya (Hudhur Anwar V atba) hendak membacakan beberapa kutipan
ringkas dari Khutbah Ilhamiyah, dari mana akan diketahui bagaimana
keagungannya. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

"أيها الناس.. إني أنا المسيح المحمدي، وإني أنا أحمَدُ المهدي، وإن ربي
معي إلى يوم لَحْدي من يومِ مهدي. وإني أُعطيتُ ضِرامًا أكّالاً، وماءً
زُلالاً، وأنا كوكبٌ يمانيّ، ووابلٌ روحانيّ. إيذائي سِنانٌ مذرَّب،
ودعائي دواءٌ مجرَّب. أُرِي قومًا جلالا، وقومًا آخرين جمالا، وبِيَدِي
حربةٌ أُبيدُ بها عاداتِ الظلم والذنوب، وفي الأخرى شربةٌ أُعيدُ بها
حياةَ القلوب."

‘Ayyuhan naas! .. inni anal Masihul Muhammadi, wa inni ana Ahmadul
Mahdi, wa inna Rabbi ma’i ilaa yaumi lahdii min yaumi mahdii. Wa inni
u’thiitu dhiraaman akkaalan, wa maa-an zulaalan, wa ana kaukabuy
yamaaniyy, wa waabilur ruuhaaniyy. Iidzaa-ii sinaanum mudzarrabun, wa
du’aa-ii dawaa-un mujarrabun. Urii qauman jalaalan, wa qauman
aakhariina jamaalan, wa bi yadii hurbatun ubiidu bihaa ‘aadaatizh
zhulma wadz dzunuuba, wa fil ukhraa syurbatun u’iidu bihaa hayaatal
quluub.’

“Hai manusia ! Aku ini adalah al-Masih al-Muhammadi dan aku adalah
Ahmad al-Mahdi. Dan Rabb-ku betul-betul bersama-ku, semenjak umur
kanak-kanak sampai lanjut usia. Aku diberi sebongkah api yang siap
akan menelan, dan air yang sejuk dan segar. Dan aku adalah bintang
Yamani dan air hujan ruhani. Memberi kesusahan kepada-ku, balasannya
tombak yang tajam. Do’aku adalah obat yang mujarab. Aku memperlihatkan
kegagahan-ku kepada suatu Kaum, dan kepada kaum yang akhir (yang lain)
kuperlihatkan kehalusan budi-ku. Di tangan-ku ada senjata, dngan itu
aku menghancurkan kezaliman dan perbuatan dosa. Ditangan-ku sebelah
lagi ada minuman syarbat, dengan itu aku hidupkan kembali hati
manusia. (Khutbah Ilhamiyyah Hal. 61-62)

Selanjutnya beliau bersabda lagi :

"أيها الناس، قُوموا للهِ زُرافاتٍ وفُرادى فُرادى، ثم اتّقوا اللهَ
وفَكِّروا كالذي ما بخل وما عادى، أليس هذا الوقت وقتَ رحمِ الله على
العباد، ووقتَ دفعِ الشرّ وتدارُكِ عَطَشِ الأكباد بالعِهاد؟ أليس سيلُ
الشرِّ قد بلَغ انتهاءَه، وذيلُ الجهلِ طوَّل أرجاءَه، وفسَد المُلك كله
وشكَر إبليسُ جهلاءَه؟ فاشكروا اللهَ الذي تَذكَّرَكم وتذكَّرَ دينَكم
وما أضاعَه، وعصَم حَرْثَكم وزرعكم ولُعاعَه، وأنزلَ المطر وأكمل
أبضاعَه، وبعَث مسيحَه لدفع الضير، ومهديَّه لإفاضة الخير، وأدخلَكم في
زمانِ إمامكم بعد زمان الغير."

‘Ayyuhan naas! Quumuu liLlaahi zuraafaatin wa furaadii furaadi,
tsummat taquLlaha wa fakkiruu kal ladzii maa bakhira wa maa ‘aada, a
laisa haadzal waqtu waqta rahmiLlaahi ‘alal ‘ibaad, wa waqta daf’isy
syarri wa tadaaruki ‘athusyal akbaadi bil ‘ihaad? A laisa sailusy
syarri qad balugha intihaa-ahu, wa dzailul jahli thawwala arjaa-ahu,
wa fasadal mulku kulluhu wa syakara ibliisu juhalaa-ahu? fasykuruLlah
alladzii tadzakkarakum wa tadzakkara diinakum wa maa adhaa’ah, wa
‘ashama hartsakum wa zar’akum wa lu’aa’ah, wa anzalal mathara wa
akmala abdhaa’ah, wa ba’atsa masiihahu li daf’idh dhair, wa mahdiyyahu
li-ifaadhatil khair, wa adkhalakum fii zamaani imaamikum ba’da
zamaanil ghair.’

“Hai Manusia! Karena Allah, kalian semua atau sendiri-sendiri,
takutlah kepada Tuhan dan pikirlah tentang orang ini (saya ini0, yang
tidak bakhil dan tidak pula bermusuh. Apakah ini bukan zaman-nya agar
Allah menaruh belas kasih terhadap manusia? Apakah zaman-nya belum
tiba agar keburukan-keburukan dimusnahkan? Dan jiwa yang kering
kehausan disirami dengan hujan ruhani? Apakah banjir keburukan belum
sampai ke puncak ketinggiannya? Dan tidakkah kejahilan telah merebak
melampaui batas? Dan tidakkah negara sudah menjadi kacau dan Syaitan
mengucapkan syukur kepada orang-orang jahil? Maka, bersyukurlah kalian
kepada Tuhan Yang telah ingat kepada kalian. Dan ingat kepada Agama
kalian, menyelamatkan-nya dari kehancuran. Dan menyelamatkan semua
tumbuhan dan pertanian yang kalian tanam dari mara bahaya, dan
menurunkan air hujan yang membuat semua bahan perbekalan kalian
berbuah dengan sempurna. Dan Dia telah mengutus Masih-Nya untuk
menjauhkan segala kesusahan dan hambatan. Dan Dia telah mengutus
Mahdi-Nya demi mendatangkan kebaikan dan keuntungan. Dan telah
memasukkan kalian kedalam zaman Imam kalian setelah berlalu zaman
tanpa Imam. (Khutbah Ilhamiyyah, Hal. 66-67)

Selanjutnya beliau bersabda:

"وإني على مقام الختم من الولاية، كما كان سيدي المصطفى على مقام الختم
من النبوة. وإنه خاتم الأنبياء، وأنا خاتم الأولياء، لا وليَّ بعدي، إلا
الذي هو مني وعلى عهدي. وإني أُرسلتُ من ربي بكل قوة وبركة وعزة، وإن
قدمي هذه على منارةٍ خُتِمَ عليها كلُّ رفعة. فاتقوا الله أيها الفتيان،
واعرفوني وأطيعوني ولا تموتوا بالعصيان. وقد قرُب الزمان، وحان أن تُسأل
كلُّ نفس وتُدانُ."



‘Wa inni ‘alaa maqaamil khatmi minal walaayah, kamaa kaana sayyidil
Mushthafa ‘alaa maqaamil khatmi minan nubuwwah. Wa innahu khaatamul
anbiyaa-i, wa ana khaatamul awliyaa-i, laa waliyya ba’dii, illalladzii
huwa minnii wa ‘alaa ‘ahdii. Wa inni ursiltu min Rabbi bi kulli
quwwatin wa barkatin wa ‘izzatin, wa inna qadamii haadzihi ‘alaa
manaaratin khutima ‘alaihaa kullu rif’atin. fattaquLlaha ayyhual
fityaan, wa’rifuuni wa athii’uunii wa laa tamuutu bil ‘ishyaan. Wa qad
qarubaz zamaanu, wa haana an tus-alu kullu nafsin wa tudaan.’

“Dan sesungguhnya aku berada dalam kedudukan sebagai khatm (penghulu,
pengesah) dalam walaayah (kewalian) seperti halnya tuanku,
al-Mushthafa (Hadhrat Nabi Muhammad saw) berada dalam kedudukan
sebagai khatm dalam nubuwwah (kenabian). Dan sesungguhnya beliau
adalah Khaatamul Anbiya sedangkan aku adalah Khaatamul Awliya. Setelah
aku tidak akan ada Wali, melainkan dia yang dari golongan-ku dan
berpegang janji teguh padaku. Aku telah diutus oleh Tuhan-ku dengan
semua kekuatan, keberkatan dan dengan kehormatan. Dan langkah-ku ini
berada di atas menara yang tinggi yang telah sampai batas puncak
ketinggiannya. Maka takutlah kepada Tuhan, hai para pemuda! Dan
percayalah pada-ku, dan ta’atlah pada-ku dan janganlah mati dalam
keadaan durhaka. Dan zaman sudah dekat sekali dan waktu-pun sudah
suntuk, setiap jiwa akan ditanyai pertanggungan jawabnya tentang apa
yang telah dia lakukan dan akan diberi pembalasan. (Khutbah
Ilhamiyyah, Hal. 69-71)

Itulah Tanda yang sangat agung, kalam yang sangat agung dan sebuah
seruan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang Allah Ta’ala berikan kepada
beliau melalui Ilham pada tanggal 11 April 1900. Tanda ini berjalan
terus menunjukkan keagungannya dengan cemerlang sampai sekarang. Dan
sampai sekarang tidak ada orang besar paling ‘alim dan ahli (pakar)
Bahasa manapun sekalipun dari Arabia yang mampu menandinginya.
Bagaimana bisa ditandingi, sebab itu semua adalah kalam Allah Ta’ala
yang telah diucapkan melalui lidah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Semoga
Allah Ta’ala memberi akal dan keberanian kepada dunia khususnya kepada
orang-orang Muslim Arab untuk mengenal amanat orang yang telah diutus
oleh Allah Ta’ala di zaman ini dan semoga mereka menjadi para penolong
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pencinta sejati Hadhrat Rasulullah saw untuk
menghimpun seluruh Ummat Islam menjadi satu Ummat. Semoga Allah Ta’ala
memberi taufiq kepada kita juga untuk melaksanakan semua kewajiban
kita.

Setelah salat Jum’ah saya akan memimpin salat dua orang jenazah ghaib.
Pertama, Mukarramah Hanifa Sahiba isteri Chouhdry Ahmad Bashir Sahib
Bhatti dari Distrik Shekhupura, Lahore wafat tanggal 3 April 2014 pada
umur 84 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pada tahun 1953
melalui sebuah mimpi beliau Bai’at dan masuk Jemaat Ahmadiyya. Di
waktu Jalsa Salana Rabwah beliau berjumpa dengan Hadhrat Khalifatul
Masih II r.a. dan memberitahukan: ‘Orang yang berkata kepada saya
untuk Bai’at di dalam mimpi adalah Hudhur.’ Dintara semua
saudara-saudara beliau, hanya beliau sendiri yang menjadi Ahmadi.
Beliau patuh menunaikan salat fardhu, setiap malam rajin menunaikan
salat tahajjud dan banyak memanjatkan do’a. Berperangai lemah lembut,
merendahkan diri dan berhati baik. Hubungan dengan Jemaat sangat erat
dan ikhlas serta sangat setia. Beliau menaruh sangat hormat kepada
para anggota pengurus Jemaat. Beliau meninggalkan seorang suami, dua
orang puteri dan lima orang putera. Salah seorang putera beliau
Muhammad Afdzal Bhatti dikirim ke Jamia Ahmadiyya Rabwah untuk menjadi
Muballigh. Dan sekarang beliau sedang giat melakukan pengkhidmatan
terhadap Jemaat sebagai Muballigh. Semoga Allah Ta’ala meninggikan
derajat marhumah dan semoga Allah Ta’ala memberi kesabaran dan
ketabahan kepada semua putera-puteri beliau yang ditinggalkan.
[Aamiin]

Jenazah kedua Sayyid Mahmood Ahmad Shah Sahib dari Karachi. Wafat pada
tanggal 29 Maret 2014. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga
Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

[Aamiin]



Alihbahasa Hasan Basri

Editor: Dildaar Ahmad